Oleh: Dr. Sastia Prama Putri (Deputi Managing Director I-4 Kawasan East Asia)

Saat ini, dunia sudah masuk ke dalam revolusi industri terbaru, yaitu Industri 4.0. Revolusi industri ini berpusat pada bidang-bidang teknologi, khususnya bidang informatika seperti Internet of Things, Automation, dan juga Big Data Analytics yang bisa menjangkau berbagai sektor mulai dari tekstil hingga pertanian. Kemajuan teknologi ini dapat menjadi pedang bermata dua bagi kondisi sosial masyarakat. Jika tidak diatasi dengan baik, hal-hal seperti malfungsi pada mesin dapat berakibat fatal bagi masyarakat sekitarnya. Namun, jika dimanfaatkan dengan baik, kemajuan teknologi ini dapat memberikan dampak positif yang sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang sangat banyak. Oleh karena itu, hal ini penting untuk dikaji lebih lanjut.

Pembukaan acara Japan-Indonesia International Scientific Conference

Peduli akan isu ini, Forum Peneliti Muda Indonesia (Formind), Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang), dan Universitas Indonesia (UI) mengadakan konferensi bertajuk “Japan-Indonesia International Scientific Conference” atau yang dapat disingkat JIISC 2018. Konferensi yang diadakan di Ichou Kaikan, Osaka University, Osaka, Jepang pada tanggal 28 Oktober 2018 ini memiliki tema “Industrial Revolution 4.0 for Smart Society” yang melingkupi ranah teknik (Engineering Science), Hayati (Life Sciences), dan Sosial (Social Sciences). Pemilihan Jepang sebagai tuan rumah didasari pada kemajuan teknologi yang dimiliki Jepang dapat menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang lebih makmur. Selain itu, tahun 2018 merupakan tahun perayaan 60 tahun hubungan diplomatis Indonesia-Jepang, sehingga diharapkan dengan diadakannya konferensi ini dapat mempererat serta membangun relasi antara Indonesia dan Jepang dengan lebih baik lagi.

Presentasi oleh Prof. Muhammad Anis, Rektor Universitas Indonesia

Kegiatan JIISC 2018 ini merupakan diskusi keilmuan mengenai bagaimana kita dapat berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik serta aplikasi dari keilmuan yang kita miliki. Kegiatan ini dituangkan dalam bentuk sesi presentasi oral dari topik teknik, hayati, dan sosial, serta sesi presentasi poster, luncheon, dan kegiatan networking yang disponsori oleh KBRI Tokyo. Konferensi JIISC yang dimulai pada pukul 9 pagi ini dibuka dengan kata sambutan dari ketua acara Prof. Eiichiro Fukusaki dan Assistant Prof. Sastia Prama Putri dari Osaka University, kemudian kata sambutan dari perwakilan Rektorat Osaka University sebagai tuan rumah, Prof. Genta Kawahara, perwakilan penyelenggara dari Rektor Universitas Indonesia, Prof. Muhammad Anis, dan juga perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia di Jepang, Bapak Mochamad Abas Ridwan. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Prof. Muhammad Anis, Prof. Genta Kawahara, dan Dr. Yanuar Nugroho dari Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia untuk membicarakan mengenai peran Industrial Revolution 4.0 and Smart Society dalam kemajuan Indonesia dan Jepang.

Sesi presentasi keilmuan bidang sosial oleh Assoc. Prof. Sulfikar Amir
Sesi presentasi poster kepada pengunjung

Setelah sesi tersebut, peserta dibagi menjadi tiga ruangan yang mewakili tiga kelompok keilmuan, yaitu teknik, hayati, dan social. Pada masing-masing ruangan terdapat sesi presentasi kunci dari narasumber terpilih untuk menjelaskan kontribusi bidang keilmuannya dalam mencapai Industrial Revolution 4.0 and Smart Society, seperti Dr. Neni Nurainy, Assoc. Prof. Sulfikar Amir, Prof. Made Astawan, Prof. I Nyoman Pugeg, Assoc. Prof. Zulfan Tadjoeddin, dan Assoc. Prof. Wuled Lenggoro. Sesi dilanjutkan dengan sesi presentasi dari ilmuwan dan ilmuwan muda dari seluruh Indonesia dan juga negara lain seperti Jepang dan Taiwan yang merupakan peserta kegiatan JIISC 2018. Seluruh sesi diskusi keilmuan tersebut ditutup dengan satu sesi presentasi umum dari Prof. Eiichiro Fukusaki mengenai peran teknologi untuk mencapai Industrial Revolution 4.0 and Smart Society. Kegiatan JIISC 2018 diakhiri dengan sesi pemberian award dari UI kepada presenter terbaik yang dimenangkan oleh Fitri Amalia dari keilmuan hayati, Miftah Faried dari keilmuan teknik, dan Andry Alamsyah dari keilmuan sosial dan pidato penutupan dari ketua Formind, Dr. Rino Simanjuntak, dan Managing Director I-4 Asia Timur, Dr. Muhammad Aziz.

Seluruh rangkaian kegiatan JIISC 2018 ini dihadiri oleh 200 orang. Mayoritas peserta merupakan akademisi yang berjumlah 95 orang, kemudian mahasiswa 45 orang, tamu VIP 30 orang, serta panitia acara berjumlah 30 orang. Berdasarkan kelompok keilmuannya, sebanyak 88 orang datang dari bidang teknik, 82 orang dari bidang hayati, dan 30 orang dari bidang social. Peserta kegiatan JIISC tidak hanya datang dari Indonesia. Peserta dari Indonesia berjumlah 160 orang, dari Malaysia 1 orang, dari Jepang 37 orang, dan dari Taiwan 2 orang. Kegiatan JIISC 2018 dapat terselenggara berkat bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Osaka, Osaka University, Universitas Indonesia (UI), Shimadzu, Kikkoman, Suntory, UCC Coffee, Fuji Oil Co., Ltd., Glico, dan Morinaga. Selain mengikuti konferensi, seluruh peserta juga dapat mendaftarkan penelitian untuk dipublikasikan ke jurnal-jurnal yang memiliki kerjasama dengan kegiatan JIISC 2018. Keilmuan teknik bekerjasama dengan Journal of Engineering and Technological Sciences dan keilmuan hayati bekerjasama dengan Jurnal HAYATI Journal of Biosciences, dimana kedua jurnal tersebut sudah terindeks Scopus. Jumlah manuskrip yang diterima oleh panitia untuk direview oleh tim reviewer Japan-Indonesia International Scientific Conference berjumlah 22 manuskrip.

Foto seluruh peserta dan tamu VIP Japan-Indonesia International Scientific Conference

Melalui rangkaian kegiatan “Japan-Indonesia International Scientific Conference” ini, kami berharap agar hubungan Jepang dan Indonesia dapat semakin erat dan kedua negara dapat terus saling membantu untuk menjadikan masing-masing negara serta seluruh dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi bagi generasi yang akan datang.