Ali Gufron Mukti Terima Penghargaan dari I4

August 22, 2019

JAKARTA, KRJOGJA.com – Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti menerima penghargaan dari Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I4). Penghargaan diserahkan di Jakarta , Senin (19/8  2019 di Jakarta. Penghargaan ini diberikan pada Dirjen Ghufron atas dedikasinya dalam pengembangan organisasi I4. Karena Ali  Ghufron Mukti  tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina I4, namun bukan itu alasan I4 memberikan penghargaan ini. “Kami telah mendiskusikan dan memutuskan bahwa Dirjen Ghufron layak menerima penghargaan ini atas visi besarnya melalui SCKD hingga mampu merangkul para ilmuwan diaspora,” jelas Ketua I4, Deden Rukmana. Deden pun mengatakan program SCKD pun dapat menjadi rumah bagi ilmuan diaspora. Hingga para ilmuwan diaspora pun merasa terpanggil untuk mewujudkan Indosenia dengan SDM yang unggul. “Kita punya rumah. SCKD adalah rumah kita bersinergi dan berbagi untuk menjadikan bangsa kita lebih maju lagi,” tegasnya. Dirjen Ghufron pun berterimakasih atas penghargaan yang ia terima. Bahkan ia pun kaget. “Dunia ini penuh kejutan, termasuk I4 yang memberikan penghargaan ini. Gak sangka saya. Saya pikir pak Deden ini hanya akan sambutan saja,” ujar Dirjen Ghufron seraya para hadirin pun tertawa. Penghargaan ini diberikan I4 dalam rangka hari jadi I4 yang ke 10 tahun. Yang juga bertepat dengan malam penyambutan ilmuan diaspora untuk mengikuti kegiatan SCKD 2019. SCKD atau Simposium Cendikia Kelas Dunia adalah program Direktorat Sumber Daya Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti untuk mengundang ilmuan diaspora untuk berkolaborasi dengan ilmuan dan akademisi perguruan tinggi di Indonesia. Mereka pun akan diajak berdiskusi tentang potensi dan peluang Indonesia dalam berbagai bidang untuk dikembangkan. Sebanyak 52 ilmuwan diaspora yang berasal dari 15 negara mengikuti kegiatan SCKD tahun ini. Program ini pun tercipta atas kerjasama Kemenristekdikti dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (1-4), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).(ati)

Read more

SCKD 2019: Menjadikan Indonesia Negara yang Dibutuhkan Dunia

August 19, 2019

Dirjen SDID Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti saat menyambut 52 ilmuan diaspora yang hadir dalam Gala Dinner Simposium Cendikia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019. Para ilmuwan diaspora ini mengikuti serangkaian kegiatan SCKD yang akan berlangsung pada 18-25 Agustus 2019. KOMPAS.com -lmuwan diaspora diajak untuk menjadikan Indonesia negara yang dibutuhkan dunia dan bukan selalu Indonesia yang membutuhkan dunia atau negara lain. Tantangan ini dilontarkan Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti saat sambutan dan ucapan selamat datang kepada para ilmuan diaspora pada “Gala Dinner Simposium Cendikia Kelas Dunia ( SCKD) 2019” di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019. Sebanyak 52 ilmuwan diaspora mengikuti serangkaian kegiatan SCKD yang akan berlangsung pada 18-25 Agustus 2019. Ilmuwan diaspora yang hadir merupakan diaspora yang memiliki kompetensi dan skill mumpuni dan diharapkan mampu memberikan sumbangsih pada negara, terutama dalam akselerasi dan transfer keilmuan, serta kemajuan riset bagi peningkatan daya saing bangsa. “Kita berharap ilmuwan diaspora mampu membentuk atmosfir ilmu pengetahuan yang kompetitif namun tetap kolaboratif, khususnya untuk perguruan tinggi dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya,” harap Dirjen Gufron. Bukan ajang seremonial “Tidak ada bangsa yang bisa berkembang dengan cepat tanpa penguasaan ilmu pengetahuan teknologi, kita berharap para diaspora semua betul-betul memberikan kontribusi,” tambah Ghufron. Ia meminta ilmuwan diaspora yang ikut dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 dapat memberikan kontribusi bagi bangsa. Terutama, dalam melakukan lompatan-lompatan pembangunan untuk peningkatan sumber daya manusia sesuai visi Presiden Joko Widodo. “Kita ingin merancang, merencanakan kegiatan diaspora yang lebih sistematik lebih kontinu dan lebih terukur dan memberikan hasil,” ujarnya. Ia menekankan forum SCKD ini bukan hanya sekadar seremonial melainkan menjadi wadah program berkelanjutan, sehingga para diaspora dan dosen peneliti Indonesia dapat saling melakukan koloborasi kerja sama hingg penelitian.  Baca juga: Memanggil Diaspora Pulang, Jadi Agen Penguatan SDM Indonesia Sebanyak 52 ilmuwan diaspora dari 15 negara akan hadir dalam gelaran kolaborasi Kemenristekdikti, Kemenlu, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (1-4), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan membuka SCKD 2019 pada Senin, 19 Agustus 2019. Kolaborasi tanpa sekat Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Cecep Hermawan, mengatakan konsep SCKD sangat sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah tentang kolaborasi antar-sektor dan pemanfaatan talenta Indonesia di luar negeri untuk kemajuan bangsa. Dirjen Cecep juga mengapresiasi perihal kerja sama yang saat ini dijalin antara Kemenristekdikti dan Kemenlu pada pelaksanaan SCKD tahun ini. “Ini merupakan embrio yang ditunggu-tunggu. Kolaborasi tanpa sekat antara lembaga pemerintah,” ujarnya. Dalam kesempatan sama, Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I4) memberikan penghargaan bagi Dirjen SDID Ali Ghufron Mukti atas dedikasinya mengembangkan organisasi I4. “Beliau layak menerima penghargaan ini atas visi besar melalui SCKD hingga mampu merangkul  ilmuwan diaspora,” jelas Ketua I4, Deden Rukmana. Deden pun mengatakan program SCKD pun dapat menjadi rumah bagi ilmuan diaspora. Hingga para ilmuwan diaspora pun merasa terpanggil untuk mewujudkan Indosenia dengan SDM yang unggul. “Kita punya rumah. SCKD adalah rumah kita bersinergi dan berbagi untuk menjadikan bangsa kita lebih maju lagi,” tutupnya. Sebanyak 52 ilmuwan diaspora dari 15 negara akan hadir dalam gelaran kolaborasi Kemenristekdikti, Kemenlu, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (1-4), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan membuka SCKD 2019 pada […]

Read more