Dirjen SDID Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti saat menyambut 52 ilmuan diaspora yang hadir dalam Gala Dinner Simposium Cendikia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019. Para ilmuwan diaspora ini mengikuti serangkaian kegiatan SCKD yang akan berlangsung pada 18-25 Agustus 2019.
Dirjen SDID Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti saat menyambut 52 ilmuan diaspora yang hadir dalam Gala Dinner Simposium Cendikia Kelas Dunia (SCKD) 2019 di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019. Para ilmuwan diaspora ini mengikuti serangkaian kegiatan SCKD yang akan berlangsung pada 18-25 Agustus 2019.

KOMPAS.com -lmuwan diaspora diajak untuk menjadikan Indonesia negara yang dibutuhkan dunia dan bukan selalu Indonesia yang membutuhkan dunia atau negara lain. Tantangan ini dilontarkan Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti saat sambutan dan ucapan selamat datang kepada para ilmuan diaspora pada “Gala Dinner Simposium Cendikia Kelas Dunia ( SCKD) 2019” di Jakarta, Minggu 18 Agustus 2019. Sebanyak 52 ilmuwan diaspora mengikuti serangkaian kegiatan SCKD yang akan berlangsung pada 18-25 Agustus 2019. Ilmuwan diaspora yang hadir merupakan diaspora yang memiliki kompetensi dan skill mumpuni dan diharapkan mampu memberikan sumbangsih pada negara, terutama dalam akselerasi dan transfer keilmuan, serta kemajuan riset bagi peningkatan daya saing bangsa. “Kita berharap ilmuwan diaspora mampu membentuk atmosfir ilmu pengetahuan yang kompetitif namun tetap kolaboratif, khususnya untuk perguruan tinggi dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya,” harap Dirjen Gufron. Bukan ajang seremonial “Tidak ada bangsa yang bisa berkembang dengan cepat tanpa penguasaan ilmu pengetahuan teknologi, kita berharap para diaspora semua betul-betul memberikan kontribusi,” tambah Ghufron. Ia meminta ilmuwan diaspora yang ikut dalam Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019 dapat memberikan kontribusi bagi bangsa. Terutama, dalam melakukan lompatan-lompatan pembangunan untuk peningkatan sumber daya manusia sesuai visi Presiden Joko Widodo. “Kita ingin merancang, merencanakan kegiatan diaspora yang lebih sistematik lebih kontinu dan lebih terukur dan memberikan hasil,” ujarnya. Ia menekankan forum SCKD ini bukan hanya sekadar seremonial melainkan menjadi wadah program berkelanjutan, sehingga para diaspora dan dosen peneliti Indonesia dapat saling melakukan koloborasi kerja sama hingg penelitian.  Baca juga: Memanggil Diaspora Pulang, Jadi Agen Penguatan SDM Indonesia Sebanyak 52 ilmuwan diaspora dari 15 negara akan hadir dalam gelaran kolaborasi Kemenristekdikti, Kemenlu, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (1-4), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan membuka SCKD 2019 pada Senin, 19 Agustus 2019. Kolaborasi tanpa sekat Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Cecep Hermawan, mengatakan konsep SCKD sangat sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah tentang kolaborasi antar-sektor dan pemanfaatan talenta Indonesia di luar negeri untuk kemajuan bangsa. Dirjen Cecep juga mengapresiasi perihal kerja sama yang saat ini dijalin antara Kemenristekdikti dan Kemenlu pada pelaksanaan SCKD tahun ini. “Ini merupakan embrio yang ditunggu-tunggu. Kolaborasi tanpa sekat antara lembaga pemerintah,” ujarnya. Dalam kesempatan sama, Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I4) memberikan penghargaan bagi Dirjen SDID Ali Ghufron Mukti atas dedikasinya mengembangkan organisasi I4. “Beliau layak menerima penghargaan ini atas visi besar melalui SCKD hingga mampu merangkul  ilmuwan diaspora,” jelas Ketua I4, Deden Rukmana. Deden pun mengatakan program SCKD pun dapat menjadi rumah bagi ilmuan diaspora. Hingga para ilmuwan diaspora pun merasa terpanggil untuk mewujudkan Indosenia dengan SDM yang unggul. “Kita punya rumah. SCKD adalah rumah kita bersinergi dan berbagi untuk menjadikan bangsa kita lebih maju lagi,” tutupnya.

Sebanyak 52 ilmuwan diaspora dari 15 negara akan hadir dalam gelaran kolaborasi Kemenristekdikti, Kemenlu, Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (1-4), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan membuka SCKD 2019 pada Senin, 19 Agustus 2019. Kolaborasi tanpa sekat Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Cecep Hermawan, mengatakan konsep SCKD sangat sejalan dengan apa yang diharapkan pemerintah tentang kolaborasi antar-sektor dan pemanfaatan talenta Indonesia di luar negeri untuk kemajuan bangsa. Dirjen Cecep juga mengapresiasi perihal kerja sama yang saat ini dijalin antara Kemenristekdikti dan Kemenlu pada pelaksanaan SCKD tahun ini. “Ini merupakan embrio yang ditunggu-tunggu. Kolaborasi tanpa sekat antara lembaga pemerintah,” ujarnya. Dalam kesempatan sama, Ikatan Ilmuan Indonesia Internasional (I4) memberikan penghargaan bagi Dirjen SDID Ali Ghufron Mukti atas dedikasinya mengembangkan organisasi I4. “Beliau layak menerima penghargaan ini atas visi besar melalui SCKD hingga mampu merangkul  ilmuwan diaspora,” jelas Ketua I4, Deden Rukmana. Deden pun mengatakan program SCKD pun dapat menjadi rumah bagi ilmuan diaspora. Hingga para ilmuwan diaspora pun merasa terpanggil untuk mewujudkan Indosenia dengan SDM yang unggul. “Kita punya rumah. SCKD adalah rumah kita bersinergi dan berbagi untuk menjadikan bangsa kita lebih maju lagi,” tutupnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “SCKD 2019: Menjadikan Indonesia Negara yang Dibutuhkan Dunia “, https://edukasi.kompas.com/read/2019/08/19/14341901/sckd-2019-menjadikan-indonesia-negara-yang-dibutuhkan-dunia?page=2.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo