Indonesia’s Scientific Diaspora Launches ‘Matchmaking’ Scheme to Boost Global Research Collaboration

September 4, 2020

Researchers from the Inter­na­tion­al Indone­sian Schol­ars Asso­ci­a­tion (I4) have launched a new “match­mak­ing” plat­form to con­nect sci­en­tists based in Indone­sia with those work­ing abroad. The goal is to improve the country’s inter­na­tion­al col­lab­o­ra­tion in sci­en­tif­ic research. Research Min­is­ter Bam­bang Brod­jone­goro hopes this pro­gram will be a new mile­stone on Indonesia’s jour­ney to becom­ing a devel­oped coun­try with a research-dri­ven econ­o­my. “To achieve this, sci­en­tists at home must work hand in hand with our dias­po­ra to opti­mise the pool of tal­ent and resources,” he said. I4 announced the pro­gram last week dur­ing Indonesia’s annu­al World Schol­ars Forum (Forum Cen­dekia Kelas Dunia) – held via a two-day Zoom con­fer­ence and Youtube live stream. Please read more from the orig­i­nal arti­cle here: theconversation.com

Read more

Ali Gufron Mukti Terima Penghargaan dari I4

August 22, 2019

JAKARTA, KRJOGJA.com — Direk­tur Jen­der­al Sum­ber Daya Iptek dan Dik­ti, Ali Ghufron Muk­ti mener­i­ma peng­har­gaan dari Ikatan Ilmuan Indone­sia Inter­na­sion­al (I4). Peng­har­gaan dis­er­ahkan di Jakar­ta , Senin (19/8  2019 di Jakar­ta. Peng­har­gaan ini diberikan pada Dir­jen Ghufron atas dedikasinya dalam pengem­ban­gan organ­isasi I4. Kare­na Ali  Ghufron Muk­ti  ter­catat seba­gai Ket­ua Dewan Pem­bi­na I4, namun bukan itu alasan I4 mem­berikan peng­har­gaan ini. “Kami telah mendiskusikan dan memu­tuskan bah­wa Dir­jen Ghufron layak mener­i­ma peng­har­gaan ini atas visi besarnya melalui SCKD hing­ga mam­pu merangkul para ilmuwan dias­po­ra,” jelas Ket­ua I4, Deden Ruk­mana. Deden pun men­gatakan pro­gram SCKD pun dap­at men­ja­di rumah bagi ilmuan dias­po­ra. Hing­ga para ilmuwan dias­po­ra pun merasa ter­pang­gil untuk mewu­jud­kan Indose­nia den­gan SDM yang ung­gul. “Kita pun­ya rumah. SCKD adalah rumah kita bersin­er­gi dan berba­gi untuk men­jadikan bangsa kita lebih maju lagi,” tegas­nya. Dir­jen Ghufron pun bert­er­i­makasih atas peng­har­gaan yang ia ter­i­ma. Bahkan ia pun kaget. “Dunia ini penuh keju­tan, ter­ma­suk I4 yang mem­berikan peng­har­gaan ini. Gak sang­ka saya. Saya pikir pak Deden ini hanya akan sambu­tan saja,” ujar Dir­jen Ghufron ser­aya para hadirin pun tertawa. Peng­har­gaan ini diberikan I4 dalam rang­ka hari jadi I4 yang ke 10 tahun. Yang juga bertepat den­gan malam penyambu­tan ilmuan dias­po­ra untuk mengiku­ti kegiatan SCKD 2019. SCKD atau Sim­po­sium Cendikia Kelas Dunia adalah pro­gram Direk­torat Sum­ber Daya Iptek dan Dik­ti, Kemen­ris­tekdik­ti untuk men­gun­dang ilmuan dias­po­ra untuk berko­lab­o­rasi den­gan ilmuan dan akademisi per­gu­ru­an ting­gi di Indone­sia. Mere­ka pun akan dia­jak berdiskusi ten­tang poten­si dan pelu­ang Indone­sia dalam berba­gai bidang untuk dikem­bangkan. Sebanyak 52 ilmuwan dias­po­ra yang berasal dari 15 negara mengiku­ti kegiatan SCKD tahun ini. Pro­gram ini pun ter­cip­ta atas ker­jasama Kemen­ris­tekdik­ti den­gan Kementer­ian Luar Negeri (Kemen­lu), Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­sion­al (1–4), dan Akade­mi Ilmuwan Muda Indone­sia (ALMI).(ati)

Read more

Inaugural I‑4 Lectures ‑Physics, Materials and Mathematics Cluster

July 2, 2019

Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­sion­al bek­er­jasama den­gan dua Uni­ver­si­tas dalam negeri, yaitu Uni­ver­si­tas Tan­jung­pu­ra (Pon­tianak) dan Uni­ver­si­tas Lam­bung Mangku­rat (Ban­jar­masin), mem­persem­bahkan kegiatan I‑4 Lec­ture Dar­ing (online) per­dana Klus­ter Fisi­ka, Mate­r­i­al dan Matem­ati­ka yang meng­hadirkan Ilmuwan Dias­po­ra Indone­sia. Pem­bicara di edisi per­dana ini adalah: Prof. Lydia Hele­na Wong Asso­ciate Pro­fes­sor School of Mate­ri­als Sci­ence & Engi­neer­ing Nanyang Tech­no­log­i­cal Uni­ver­si­ty, Sin­ga­pore. Tema : Mate­ri­als for ener­gy and sus­tain­abil­i­ty. dan Prof. Andri­vo Rusy­di Asso­ciate Pro­fes­sor Depart­ment of Physics Nation­al Uni­ver­si­ty of Sin­ga­pore. Tema : More than more and beyond and how research­es in Indone­sia can con­tribute. Acara dibu­ka lang­sung oleh: Prof. Deden Ruk­mana Pro­fes­sor and Chair­per­son of the Depart­ment of Com­mu­ni­ty and Region­al Plan­ning at Alaba­ma A&M Uni­ver­si­ty (USA) Ket­ua Umum Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­sion­al Prof. Dr. Ismu­nan­dar Dir­jen Pem­be­la­jaran dan Kema­ha­siswaan Prof. dr. Ali Ghufron Muk­ti, M.Sc., Ph.D Dir­jen Sum­ber Daya Iptek Dik­ti Prof. Dr. Soetar­to Hadi Rek­tor Uni­ver­si­tas Lam­bung Mangku­rat Prof. Dr. Garu­da Wiko, S.H., M.Hum Rek­tor Uni­ver­si­tas Tan­jung­pu­ra Mod­er­a­tor H. Afghani Jayus­ka, S.Si., M.Si. Dekan Fakul­tas MIPA Uni­ver­si­tas Tan­jung­pu­ra Kegiatan dilak­sanakan pada: Selasa, 02 Juli 2019 Pk 09.00 WIB Reka­man kegiatan dap­at dil­i­hat di Chan­nel YouTube media_i4 atau klik tau­tan di bawah https//youtu.be/otgmayoEYTU @media_i4 Untuk materi pre­sen­tasi dari Prof. Lydia Hele­na Wong dap­at diun­duh di link ini dan pre­sen­tasi Prof. Andri­vo Rusy­di dap­at diun­duh di link ini.

Read more

Diskusi Bersama Dirjen Penguatan Riset & Pengembangan di Tokyo Institute of Technology

March 29, 2019

Reporter: Dr. Muham­mad Aziz (Man­ag­ing Direc­tor I‑4 East Asia) Direk­tur Jen­dral Pen­guatan Riset dan Pengem­ban­gan Kemen­ris­tekdik­ti, Dr. Muham­mad Dimy­ati, yang juga adalah anggota Dewan Pem­bi­na I‑4 men­gadakan diskusi berta­juk “Riset Indone­sia: Sudah sejauh mana kita melangkah?” den­gan para ilmuwan dan maha­siswa Indone­sia di kam­pus Tokyo Insti­tute of Tech­nol­o­gy (Toko­dai Ookaya­ma Cam­pus) pada hari Kamis, 14 Maret 2019. Kegiatan ini terse­leng­gara atas dukun­gan dari berba­gai pihak ter­ma­suk I‑4 East Asia, PPI Toko­dai, Kemen­ris­tekdik­ti dan Kedubes RI di Jepang. Reka­man dari kegiatan diskusi terse­but juga dap­at dil­i­hat dalam link YouTube ini. Semen­tara materi pre­sen­tasi yang dis­am­paikan oleh Dr. Muham­mad Dimy­ati dap­at pula diun­duh di link berikut ini.

Read more

Dari Diaspora untuk Indonesia

March 28, 2019

DARI DIASPORA UNTUK INDONESIA Sebuah kebang­gaan atas pen­ca­pa­ian yang telah dilakukan Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­sion­al dibawah kepen­gu­ru­san Prof. Deden Ruk­mana. Banyak hal yang telah dilakukan dan diper­juangkan bersama Dias­po­ra Indone­sia, pemer­in­tah, dan selu­ruh stake­hold­er untuk mema­jukan pen­didikan dan riset Teknolo­gi Indone­sia. Ini adalah langkah awal yang ten­tu akan terus diper­juangkan bersama. Salam Ilmuwan Indone­sia untuk Dunia! https://edukasi.kompas.com/read/2019/03/27/10493361/mendorong-ilmuwan-diaspora-menjadi-agen-perubahan https://kompas.id/baca/utama/2019/03/28/deden-rukmana-dari-diaspora-untuk-indonesia/https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/03/28/deden-rukmana-from-the-diaspora-for-indonesia/

Read more

PhD Student University Technology Sydney

January 29, 2019

Kesem­patan untuk men­ja­di PhD stu­dent di Uni­ver­si­tas Tech­nol­o­gy Syd­ney. Dibu­tuhkan satu orang PhD Stu­dent den­gan spe­cial­isasi bio­fu­el (bioethanol/biodiesel/ bio­mass or microal­gae). Full schol­ar­ship akan dise­di­akan. Infor­masi selengkap­nya dap­at menghubun­gi Dr. T.M. Indra Mahlia, Dis­tin­guished Pro­fes­sor, School of Infor­ma­tion, Sys­tems and Mod­el­ling Core Mem­ber, Cen­tre for Advanced Mod­el­ling and Geospa­tial lnfor­ma­tion Sys­tems, the Uni­ver­si­ty of Tech­nol­o­gy Syd­ney. Email ke tmindra.mahlia@uts.edu.au 

Read more

With its diaspora, Indonesia can be next scientific powerhouse

January 13, 2019

Author: Bagus Mul­ja­di Indonesia’s sci­en­tists’ dias­po­ra are an impor­tant resource that can be har­nessed by the gov­ern­ment for nation­al growth in research and inno­va­tion. Despite lag­ging in sci­en­tif­ic pub­li­ca­tions, Indone­sia has the key ingre­di­ents to become a major glob­al research hub. How­ev­er, it is only when the gov­ern­ment is will­ing to have knowl­edge exchange through its sci­en­tists’ dias­po­ra net­works can Indone­sia cap­i­tal­ize on its mas­sive poten­tial and become the next pow­er­house of sci­ence. To grow, Indone­sia needs to tran­si­tion from a resource-based to a knowl­­edge-based econ­o­my which relies heav­i­ly on intel­lec­tu­al cap­i­tal rather than nat­ur­al resources. In the knowl­­edge-based econ­o­my, the sci­en­tif­ic sys­tem con­tributes to key func­tions of knowl­edge pro­duc­tion, human cap­i­tal devel­op­ment, and trans­fer­ring knowl­edge or exchange of ideas between acad­e­mia and indus­try, and pro­vid­ing inputs to prob­lem-solv­ing. China’s gov­ern­ment has encour­aged knowl­edge exchange through its dias­po­ra net­works and has thus become an impor­tant hub for sci­en­tif­ic col­lab­o­ra­tion with North Amer­i­can and Euro­pean net­works. Like­wise, Indonesia’s sci­en­tists in the dias­po­ra can con­tribute as agents for knowl­edge exchange, pro­vid­ing the home-based sci­en­tists with links for col­lab­o­ra­tions, access to new fund­ing sources, and state-of-the-art (often pro­hib­i­tive­ly expen­sive to access) exper­i­men­tal appa­ra­tus­es. The exact for­mat in which the sci­en­tists’ dias­po­ra can be uti­lized opti­mal­ly should be dis­cussed, to be fur­ther for­mal­ized in poli­cies. Pre­vi­ous­ly, a nar­row sense of patri­o­tism dom­i­nat­ed pub­lic dis­course on the sci­en­tists’ dias­po­ra. When­ev­er reports emerge of promi­nent sci­en­tists of Indone­sian descent mak­ing it “big” abroad, often the cen­tral ques­tion is when the said sci­en­tist (s) would return home. In a coun­try mov­ing toward a knowl­­edge-based soci­ety, “transna­tion­al” think­ing needs to be the norm — glob­al links may prove more cru­cial in dri­ving inno­va­tion of the coun­try than its human cap­i­tal “stock”. Sci­en­tists in the dias­po­ra do not need to return per­ma­nent­ly, but rather could act as agents for Indone­sian devel­op­ment in sci­ence. They could col­lab­o­rate with the home-based coun­ter­parts, and togeth­er con­tribute to the pro­vi­sion of mod­ern, sci­en­tif­i­­cal­­ly-informed poli­cies. Major 21st cen­tu­ry prob­lems can only be solved through inter­dis­ci­pli­nary, col­lab­o­ra­tive efforts. Among these prob­lems are sus­tain­able ener­gy, food secu­ri­ty, and health. To stand a chance in solv­ing any of these, the glob­al com­mu­ni­ty of sci­en­tists must have Indonesia’s active par­tic­i­pa­tion. For exam­ple, Indone­sia has some 40 per­cent of glob­al geot­her­mal ener­gy reserves. This means a mas­sive 29 gigawatts of poten­tial clean ener­gy which, if cul­ti­vat­ed prop­er­ly, could see Indone­sia lead­ing the glob­al renew­able ener­gy project in the near future. In food, and health sec­tors, Indone­sia owns some of the most inter­est­ing, mul­ti­vari­ate sub­jects of sci­en­tif­ic endeav­ours. All these pro­vide the build­ing blocks for Indonesia’s research and inno­va­tion toward becom­ing the next hub for research col­lab­o­ra­tion out­side the Unit­ed States, Europe and Chi­na. Often obsta­cles of glob­al col­lab­o­ra­tive research are the costs of mobi­liza­tion of researchers, trav­el for data sam­pling and research dis­sem­i­na­tion. These are the areas where the gov­ern­ment can step in and catal­yse knowl­edge exchange. Indeed, the Research and High­er Edu­ca­tion Min­istry has run a series of knowl­­edge-exchange pro­grams to improve the qual­i­ty of domes­tic research. In anoth­er instance, a select group of sci­en­tists from Indonesia’s dias­po­ra were invit­ed back to par­tic­i­pate in over a week-long world class schol­ars sym­po­siumwhich fea­tured a series of dis­cus­sions with home-based sci­en­tists […]

Read more

Sinergi Ilmuwan Diaspora

January 13, 2019

Penulis: Deden Ruk­mana (Ket­ua Umum Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­sion­al 2108–2020)  Kementer­ian Riset, Teknolo­gi dan Pen­didikan Ting­gi bersama Ikatan Ilmuwan Inter­na­sion­al Indone­sia (I‑4) dan Akade­mi Ilmuwan Muda Indone­sia (ALMI) baru saja men­gadakan kegiatan Sim­po­sium Cen­dekia Kelas Dunia (SCKD) 2018 pada tang­gal 12–18 Agus­tus. Kegiatan SCKD 2018 ini meru­pakan kegiatan tahu­nan keti­ga yang men­gun­dang ilmuwan dias­po­ra Indone­sia dari berba­gai bela­han dunia untuk hadir berko­lab­o­rasi dan bersin­er­gi den­gan mitra mere­ka di dalam negeri untuk mengem­bangkan ilmu penge­tahuan dan teknolo­gi dan pen­didikan ting­gi di Indone­sia. Para ilmuwan dias­po­ra terse­but dihadirkan sela­ma sem­i­ng­gu di Indone­sia ter­ma­suk pre­sen­tasi dan diskusi pan­el di Jakar­ta den­gan sek­i­tar 400 dosen per­gu­ru­an ting­gi se-Indone­sia ser­ta men­gun­jun­gi per­gu­ru­an ting­gi di berba­gai daer­ah di Indone­sia pada tang­gal 15–17 Agus­tus 2018. Ter­da­p­at 47 ilmuwan dias­po­ra dari 11 negara berpar­tisi­pasi dalam kegiatan SCKD 2018 yang dikir­im ke 55 per­gu­ru­an ting­gi di daer­ah ter­ma­suk Uni­ver­si­tas Negeri Medan, Uni­ver­si­tas Mulawar­man, Uni­ver­si­tas Halu Oleo dan Uni­ver­si­tas Cen­drawasih. Penulis sendiri ditu­gaskan ke Uni­ver­si­tas Air­lang­ga, Uni­ver­si­tas Negeri Surabaya dan Insti­tut Teknolo­gi Sepu­luh Nopem­ber di Surabaya. Kegiatan SCKD ini mem­berikan dampak posi­tif bagi kegiatan kolab­o­rasi antara ilmuwan dias­po­ra Indone­sia di luar negeri den­gan mitra mere­ka di dalam negeri ter­ma­suk kolab­o­rasi penelit­ian dan pub­likasi. Kegiatan ini juga menun­jukkan keber­adaan negara bagi ilmuwan dias­po­ra yang meru­pakan kom­po­nen pent­ing bagi kema­juan bangsa Indone­sia. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun ter­akhir ini men­ja­di momen­tum pent­ing bagi bersin­erginya kem­bali lmuwan dias­po­ra Indone­sia di selu­ruh dunia. Organ­isasi I‑4 awal­nya diin­isi­asi oleh Per­sat­u­an Pela­jar Indone­sia (PPI) Jer­man pada perten­ga­han tahun 2007. Tujuan pem­ben­tukan I‑4 ini adalah untuk men­gako­modasi selu­ruh poten­si ilmuwan Indone­sia di selu­ruh dunia untuk ikut berper­an dalam mengem­bangkan ilmu penge­tahuan dan teknolo­gi. Pendiri­an I‑4 sendiri dideklarasikan oleh Per­him­punan Pela­jar Indone­sia (PPI) se-Dunia pada tang­gal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Sim­po­sium Inter­na­sion­al (SI) PPI Dunia di Den Haag, Belan­da. Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­sion­al (I‑4) kemu­di­an diresmikan secara for­mal di Jakar­ta pada tang­gal 24 Okto­ber 2009 oleh Menteri Pen­didikan dan Kebu­dayaan Moham­mad Nuh, Kegiatan berikut­nya adalah penye­leng­garaan Inter­na­tion­al Sum­mit pada tang­gal 16–18 Desem­ber 2010 di Jakar­ta. Lebih dari 50 ilmuwan dias­po­ra diun­dang ke acara terse­but yang dibu­ka res­mi oleh Wak­il Pres­i­den Boe­diono. Kegiatan ini men­ja­di peri­s­ti­wa his­toric bagi pen­gakuan ilmuwan dias­po­ra seba­gai salah satu kom­po­nen bangsa oleh Pemer­in­tah Repub­lik Indone­sia. Sayangnya kegiatan ini lebih bersi­fat ser­e­mo­ni­al dan tidak ada kegiatan lan­ju­tan untuk mensin­ergikan poten­si ilmuwan dias­po­ra terse­but. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun ter­akhir mem­beri dampak posi­tif bagi perkem­ban­gan organ­isasi (I‑4) dalam mensin­ergikan poten­si ilmuwan dias­po­ra Indone­sia di selu­ruh bagian dunia bagi pengem­ban­gan iptek dan sum­ber daya manu­sia pen­didikan ting­gi di Indone­sia. Pen­dataan poten­si ilmuwan dias­po­ra Indone­sia di luar negeri telah mulai dilakukan oleh I‑4 den­gan bek­er­ja sama den­gan Atase Pen­didikan dan Kebu­dayaan di mas­ing-mas­ing negara, mis­al­nya Ameri­ka Serikat, Jepang, Ing­gris Raya dan Aus­tralia. Data ilmuwan ini men­ja­di dasar bagi kegiatan-kegiatan I‑4 untuk mensin­ergikan poten­si ilmuwan dias­po­ra Indone­sia den­gan ilmuwan Indone­sia di dalam negeri dalam upaya pen­ingkatan sum­ber daya manu­sia dan riset di Indone­sia. Poten­si Ilmuwan Dias­po­ra Poten­si dias­po­ra negara-negara lain­nya seper­ti Cina, India, Korea, dan Viet­nam telah lebih dari sepu­luh tahun yang lalu bersin­er­gi den­gan pemer­in­tah negaranya  mas­ing-mas­ing. Poten­si ilmuwan dias­po­ra negara-negara terse­but yang terse­bar di negara-negara maju seper­ti Ameri­ka Serikat, Ing­gris Raya, Eropa, Aus­tralia dan Jepang telah […]

Read more

Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology 2018, di Melbourne Australia

October 22, 2018

Ilmuwan Dias­po­ra Indone­sia yang ter­gabung dalam I‑4 (Ikatan Ilmuwan Indone­sia Inter­na­tion­al) Aus­tralia dan IARNA (Indone­sian Aca­d­e­mics and Researchers Net­work Aus­tralia) bek­er­jasama den­gan Kon­sulat Jen­dral Repub­lik Indone­sia di Mel­bourne dan Departe­men of For­eign Affairs and Trade (DFAT)-Pemerintahan Aus­tralia, men­gadakan Indone­sia-Aus­­tralia Forum on High­er Edu­ca­tion, Research and Tech­nol­o­gy (IAF-HEART 2018), ming­gu lalu pada tang­gal 16–18 Okto­ber 2018. Forum tingkat ting­gi yang dihadiri oleh senior lead­er­ship dan akademisi dari berba­gai uni­ver­si­tas di Indone­sia dan Aus­tralia ini dis­e­leng­garakan di Swin­burne Uni­ver­si­ty of Tech­nol­o­gy di Mel­bourne, Aus­tralia. Sek­i­tar 15 uni­ver­si­tas dari Indone­sia (negeri dan pri­vate) dan 10 dari Negara Bagian Vic­to­ria berpar­tisi­pasi dalam forum ini. Forum ini di buka oleh Kon­sul Jen­der­al Repub­lik Indone­sia di Mel­bourne, Ms Spi­ca A Tutuhatunewa, dan juga dihadiri oleh Atase Pen­didikan dan Kebu­dayaan KBRI Can­ber­ra, Mr Muham­mad Imran Hanafi.  Assoc Prof M Akbar Rhamd­hani, yang meru­pakan Deputy Man­ag­ing Direc­tor I‑4 Aus­tralia yang juga merangkap seba­gai Pres­i­dent IARNA meny­atakan  bah­wa forum ini bertu­juan untuk men­guatkan hubun­gan yang sudah ada dan mem­bu­at link baru untuk kolab­o­rasi riset dan pedidikan ting­gi antar uni­ver­si­tas di Indone­sia dan juga Aus­tralia, khusus­nya di negara bagian Vic­to­ria. Forum ini meru­pakan ajang untuk share best prac­tice, mengi­den­ti­fikasi tan­ta­n­gan dan juga kesem­patan untuk berko­lab­o­rasi. Pada Sesi ke 1, Kon­sul Jen­dral Spi­ca Tutuhatunewa mema­parkan high lev­el overview hubun­gan antara Indone­sia dan Aus­tralia dalam bidang Riset dan Pen­didikan Ting­gi. Beli­au mema­parkan bah­wa Indone­sia meru­pakan salah satu top inno­va­tors among emerg­ing economies, den­gan rank­ing 31 untuk inno­va­tion, dan rank­ing 32 untuk busi­ness sophis­ti­ca­tion. Aus­tralia memi­li­ki per­for­ma lebih baik dalam area high­er edu­ca­tion and train­ing (den­gan glob­al rank­ing 9), dan qual­i­ty of sci­en­tif­ic research insti­tu­tions (glob­al rank­ing 10). Dr Eugene Sebas­t­ian, Direc­tor Indone­sia-Aus­­tralia Cen­ter, mema­parkan tan­ta­n­gan dan kesem­patan kolab­o­rasi antar dua negara di sek­tor pen­didikan den­gan mem­berikan con­toh kolab­o­rasi di dalam Indone­sia-Aus­­tralia Cen­ter, yang meru­pakan kon­sor­si­um riset dari 11 uni­ver­si­tas di Indone­sia dan Aus­tralia. Pada sesi-sesi berikut­nya, pre­sen­tasi dan diskusi pan­el diadakan untuk meng-eksplor lebih detail men­ge­nai tan­ta­n­gan, kesem­patan dan best prac­tice dari kolab­o­rasi riset dan pen­didikan ting­gi yang diba­gi dalam tiga area: 1) STEM (sains, teknolo­gi, teknik dan matem­ati­ka), 2) Medikal, Ilmu sosial, Art dan Hukum, dan 3) Bis­nis, ino­vasi dan kewirausa­haan. Pada Sesi 2 ten­tang STEM, Prof Geof­frey Brooks dari Swin­burne menge­mukakan area-area kun­ci yang dap­at di kem­bangkan labih lan­jut untuk kolab­o­rasi seper­ti, min­ing, min­er­als pro­cess­ing, extrac­tive met­al­lur­gy, wastes sta­bi­liza­tion and pro­cess­ing, alter­nate and renew­able ener­gy, automa­tion and advanced man­u­fac­tur­ing sys­tems. Beli­au juga menge­mukakan bah­wa salah satu great­est assets dari Indone­sia adalah high qual­i­ty students/human resources. Dr Adi Susi­lo, Dekan FMIPA di Uni­ver­si­tas Braw­i­jaya, mema­parkan bah­wa Indone­sia itu kaya akan resources tetapi juga rentan ter­hadap ben­cana alam seper­ti erup­si gunung berapi, gem­pa, tsuna­mi, long­sor, ban­jir, kebakaran hutan dan lain-lain. Dari sisi ilmu, mit­i­gasi dari ben­cana harus diperku­at dan juga pemetaan area ben­cana juga diper­lukan. Dari sisi teknolo­gi, diper­lukan riset di infor­ma­tion tech­nol­o­gy untuk mon­i­tor­ing, men­catat dan men­go­lah data. Prof Karen Hap­good, Dekan Ekseku­tif, di fakul­tas sains, teknik dan linkun­gan, Deakin Uni­ver­si­ty, meny­atakan per­lun­ya untuk men­dorong wani­ta untuk mengam­bil karir seba­gai peneli­ti di bidang STEM. Kolab­o­rasi riset pro­jek harus di arahkan den­gan meng­gu­nakan hubun­gan den­gan indus­try dan juga men­jawab tan­ta­gan glob­al seper­ti peruba­han iklim, keta­hanan pan­gan, keta­hanan cyber, tan­ta­n­gan berkem­bangnya urban­isasi dan […]

Read more