Nobel Kimia dan BBM Alternatif

October 12, 2018

Penulis: Oki Muraza Associate Professor di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi Dipublikasikan oleh Media Indonesia, Jumat 12 Oktober 2018 TERHAMBATNYA pasokan minyak mentah dunia di beberapa negara OPEC akibat permasalahan geopolitik tentu akan berbahaya bagi ketahanan energi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Bank of America memprediksi harga minyak akan kembali mencapai US$100 per barel pada 2019. Tingginya volume impor BBM tentu akan menjadi ancaman bagi pertumbuhan perekonomian tahun depan yang juga merupakan tahun politik. Untungnya, Rabu, 3 Oktober 2018, Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mengumumkan hadiah Nobel Kimia yang menginspirasi dunia untuk meningkatkan penelitian bagi bahan bakar alternatif guna mengurangi ketergantungan dunia terhadap bahan bakar dari minyak bumi. Frances Arnold, Guru Besar Teknik Kimia di California Institute of Technology bersama dua peneliti lainnya mendapatkan hadiah Nobel Kimia akan kontribusi mereka dalam merekayasa mekanisme biologi khususnya enzim untuk mempercepat laju reaksi. Arnold adalah salah satu pencetus berdirinya Gevo, perusahaan berbasis bio-ekonomi yang kini memproduksi isobutanol sebagai pengganti bensin atau setidaknya sebagai bahan campuran bensin. Sebenarnya isobutanol sudah lama digadang-gadang untuk mengganti etanol sebagai bahan pencampur bensin. Sebab, sejak 1912, biobutanol sudah dapat diproduksi dengan fermentasi ABE (acetone-butanol-ethanol). Akan tetapi keekonomisan produksi isobutanol dulu pernah dipertanyakan. Kini, dengan kehadiran perusahaan berbasis bio-ekonomi seperti Gevo, harga produksi isobutanol dapat ditekan, tentunya dengan kehadiran sains dan teknologi baru. Perusahaan berbasis inovasi lainnya, seperti Dupont dan BP juga aktif meneliti isobutanol sebagai bahan bakar terbarukan. Mencari pendamping bensin Usaha untuk mencari bahan pencampur bensin agar kebutuhan impor BBM berkurang sebenarnya sudah dimulai lama sekali. Samuel Morey pada 1826 menjadi pionir untuk penggunaaan etanol di mesin mobil, internal combustion engine (ICE). Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang intensif mengalokasikan dana penelitian untuk produksi etanol, butanol, dan bahan bakar alternatif lainnya. Butanol yang dimaksud dapat berupa 1-butanol, isobutanol atau tert-butanol. Butanol memiliki sifat fisika dan kimia yang lebih baik daripada etanol, yang juga dipakai sebagai pencampur bensin resmi di Amerika Serikat. Butanol memiliki heating value yang lebih tinggi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, volatilitas yang lebih rendah membuatnya menjadi pilihan bahan bakar yang aman sebagai pencampur BBM. Dan, lebih mudah tercampur dengan bensin (intersolubility). Butanol juga memiliki pasar yang luas sebagai bahan kimia selain sebagai bahan bakar alternatif. Yang juga penting dalam mencari bahan bakar alternatif yang terbarukan ialah sumber hidrokarbonnya. Sekuat mungkin kita harus menghindari penggunaan bahan pangan agar tidak terjadi kompetisi antara pangan dan energi (food versus energy dilemma). Penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku untuk diesel nabati misalnya perlu diatur dengan rapi dan terstruktur agar kelak tidak mengganggu kebutuhan pangan nasional. Indonesia diuntungkan dengan perang dagang AS-Tiongkok dan ancaman boikot minyak sawit mentah (CPO) oleh negara-negara Uni Eropa (UE). Baik diesel nabati maupun bio-butanol dapat diproduksi dari sampah pertanian ataupun minyak nabati nonpangan. Fleksibilitas ini akan memperkuat pasokan sampah pertanian untuk bahan baku produksi isobutanol. Salah satu kunci keberhasilan produksi bahan bakar terbarukan ialah pasokan bahan baku yang berkelanjutan dan harga bahan baku yang terjaga dari fluktuasi. Riset untuk kemerdekaan energi Perusahaan raksasa migas Total, menyebutkan bahwa menjelang 2025, Benua Asia akan mengalami defisit minyak bumi yang mendalam hingga mencapai 35 juta barel per hari. Asia akan menjadi […]

Read more