• October 22, 2018

    Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology 2018, di Melbourne Australia

    Ilmuwan Diaspora Indonesia yang tergabung dalam I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia International) Australia dan IARNA (Indonesian Academics and Researchers Network Australia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral Republik Indonesia di Melbourne dan Departemen of Foreign Affairs and Trade (DFAT)-Pemerintahan Australia, mengadakan Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology (IAF-HEART 2018), minggu lalu pada tanggal 16-18 Oktober 2018. Forum tingkat tinggi yang dihadiri oleh senior leadership dan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia ini diselenggarakan di Swinburne University of Technology di Melbourne, Australia. Sekitar 15 universitas dari Indonesia (negeri dan private) dan 10 dari Negara Bagian Victoria berpartisipasi dalam forum ini. Forum ini di buka oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Ms Spica A Tutuhatunewa, dan juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Mr Muhammad Imran Hanafi.  Assoc Prof M Akbar Rhamdhani, yang merupakan Deputy Managing Director I-4 Australia yang juga merangkap sebagai President IARNA menyatakan  bahwa forum ini bertujuan untuk menguatkan hubungan yang sudah ada dan membuat link baru untuk kolaborasi riset dan pedidikan tinggi antar universitas di Indonesia dan juga Australia, khususnya di negara bagian Victoria. Forum ini merupakan ajang untuk share best practice, mengidentifikasi tantangan dan juga kesempatan untuk berkolaborasi. Pada Sesi ke 1, Konsul Jendral Spica Tutuhatunewa memaparkan high level overview hubungan antara Indonesia dan Australia dalam bidang Riset dan Pendidikan Tinggi. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu top innovators among emerging economies, dengan ranking 31 untuk innovation, dan ranking 32 untuk business sophistication. Australia memiliki performa lebih baik dalam area higher education and training (dengan global ranking 9), dan quality of scientific research institutions (global ranking 10). Dr Eugene Sebastian, Director Indonesia-Australia Center, memaparkan tantangan dan kesempatan kolaborasi antar dua negara di sektor pendidikan dengan memberikan contoh kolaborasi di dalam Indonesia-Australia Center, yang merupakan konsorsium riset dari 11 universitas di Indonesia dan Australia. Pada sesi-sesi berikutnya, presentasi dan diskusi panel diadakan untuk meng-eksplor lebih detail mengenai tantangan, kesempatan dan best practice dari kolaborasi riset dan pendidikan tinggi yang dibagi dalam tiga area: 1) STEM (sains, teknologi, teknik dan matematika), 2) Medikal, Ilmu sosial, Art dan Hukum, dan 3) Bisnis, inovasi dan kewirausahaan. Pada Sesi 2 tentang STEM, Prof Geoffrey Brooks dari Swinburne mengemukakan area-area kunci yang dapat di kembangkan labih lanjut untuk kolaborasi seperti, mining, minerals processing, extractive metallurgy, wastes stabilization and processing, alternate and renewable energy, automation and advanced manufacturing systems. Beliau juga mengemukakan bahwa salah satu greatest assets dari Indonesia adalah high quality students/human resources. Dr Adi Susilo, Dekan FMIPA di Universitas Brawijaya, memaparkan bahwa Indonesia itu kaya akan resources tetapi juga rentan terhadap bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa, tsunami, longsor, banjir, kebakaran hutan dan lain-lain. Dari sisi ilmu, mitigasi dari bencana harus diperkuat dan juga pemetaan area bencana juga diperlukan. Dari sisi teknologi, diperlukan riset di information technology untuk monitoring, mencatat dan mengolah data. Prof Karen Hapgood, Dekan Eksekutif, di fakultas sains, teknik dan linkungan, Deakin University, menyatakan perlunya untuk mendorong wanita untuk mengambil karir sebagai peneliti di bidang STEM. Kolaborasi riset projek harus di arahkan dengan menggunakan hubungan dengan industry dan juga menjawab tantagan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, ketahanan cyber, tantangan berkembangnya urbanisasi dan […]

    Continue reading
  • October 12, 2018

    Nobel Kimia dan BBM Alternatif

    Penulis: Oki Muraza Associate Professor di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi Dipublikasikan oleh Media Indonesia, Jumat 12 Oktober 2018 TERHAMBATNYA pasokan minyak mentah dunia di beberapa negara OPEC akibat permasalahan geopolitik tentu akan berbahaya bagi ketahanan energi Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Bank of America memprediksi harga minyak akan kembali mencapai US$100 per barel pada 2019. Tingginya volume impor BBM tentu akan menjadi ancaman bagi pertumbuhan perekonomian tahun depan yang juga merupakan tahun politik. Untungnya, Rabu, 3 Oktober 2018, Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mengumumkan hadiah Nobel Kimia yang menginspirasi dunia untuk meningkatkan penelitian bagi bahan bakar alternatif guna mengurangi ketergantungan dunia terhadap bahan bakar dari minyak bumi. Frances Arnold, Guru Besar Teknik Kimia di California Institute of Technology bersama dua peneliti lainnya mendapatkan hadiah Nobel Kimia akan kontribusi mereka dalam merekayasa mekanisme biologi khususnya enzim untuk mempercepat laju reaksi. Arnold adalah salah satu pencetus berdirinya Gevo, perusahaan berbasis bio-ekonomi yang kini memproduksi isobutanol sebagai pengganti bensin atau setidaknya sebagai bahan campuran bensin. Sebenarnya isobutanol sudah lama digadang-gadang untuk mengganti etanol sebagai bahan pencampur bensin. Sebab, sejak 1912, biobutanol sudah dapat diproduksi dengan fermentasi ABE (acetone-butanol-ethanol). Akan tetapi keekonomisan produksi isobutanol dulu pernah dipertanyakan. Kini, dengan kehadiran perusahaan berbasis bio-ekonomi seperti Gevo, harga produksi isobutanol dapat ditekan, tentunya dengan kehadiran sains dan teknologi baru. Perusahaan berbasis inovasi lainnya, seperti Dupont dan BP juga aktif meneliti isobutanol sebagai bahan bakar terbarukan. Mencari pendamping bensin Usaha untuk mencari bahan pencampur bensin agar kebutuhan impor BBM berkurang sebenarnya sudah dimulai lama sekali. Samuel Morey pada 1826 menjadi pionir untuk penggunaaan etanol di mesin mobil, internal combustion engine (ICE). Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang intensif mengalokasikan dana penelitian untuk produksi etanol, butanol, dan bahan bakar alternatif lainnya. Butanol yang dimaksud dapat berupa 1-butanol, isobutanol atau tert-butanol. Butanol memiliki sifat fisika dan kimia yang lebih baik daripada etanol, yang juga dipakai sebagai pencampur bensin resmi di Amerika Serikat. Butanol memiliki heating value yang lebih tinggi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, volatilitas yang lebih rendah membuatnya menjadi pilihan bahan bakar yang aman sebagai pencampur BBM. Dan, lebih mudah tercampur dengan bensin (intersolubility). Butanol juga memiliki pasar yang luas sebagai bahan kimia selain sebagai bahan bakar alternatif. Yang juga penting dalam mencari bahan bakar alternatif yang terbarukan ialah sumber hidrokarbonnya. Sekuat mungkin kita harus menghindari penggunaan bahan pangan agar tidak terjadi kompetisi antara pangan dan energi (food versus energy dilemma). Penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku untuk diesel nabati misalnya perlu diatur dengan rapi dan terstruktur agar kelak tidak mengganggu kebutuhan pangan nasional. Indonesia diuntungkan dengan perang dagang AS-Tiongkok dan ancaman boikot minyak sawit mentah (CPO) oleh negara-negara Uni Eropa (UE). Baik diesel nabati maupun bio-butanol dapat diproduksi dari sampah pertanian ataupun minyak nabati nonpangan. Fleksibilitas ini akan memperkuat pasokan sampah pertanian untuk bahan baku produksi isobutanol. Salah satu kunci keberhasilan produksi bahan bakar terbarukan ialah pasokan bahan baku yang berkelanjutan dan harga bahan baku yang terjaga dari fluktuasi. Riset untuk kemerdekaan energi Perusahaan raksasa migas Total, menyebutkan bahwa menjelang 2025, Benua Asia akan mengalami defisit minyak bumi yang mendalam hingga mencapai 35 juta barel per hari. Asia akan menjadi […]

    Continue reading
  • October 8, 2018

    OPEN RECRUITMENT PENGURUS I-4 2018-2020

    Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional atau dalam bahasa Inggris International Indonesian Scholars Association disingkat dengan I-4 adalah sebuah wadah ilmuwan Indonesia di dalam dan luar negeri berasal dari konsepsi pengumpulan ilmuwan Indonesia dari seluruh dunia yang diinisiasi oleh PPI Jerman pada medio 2007. Pendiriannya dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional PPI Dunia pada tanggal 3 – 5 Juli 2009 di Den Haag, Belanda dan diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009. Pada awal tahun 2018 ini, terpilih Dr. Deden Rukmana sebagai Ketua Umum I-4 untuk periode kepengurusan 2018-2020. Oleh karena itu, I-4 membuka kesempatan bagi rekan-rekan ilmuwan untuk ikut berpartisipasi dalam kepengurusan I4 periode 2018 – 2020. Berikut penjelasan singkat mengenai Job Desk pada divisi-divisi I-4: 1. Divisi Logistik dan Perlengkapan – Pengadaan keperluan sekretariat I-4: kartu nama, kenang-kenangan, kartu ucapan – Melakukan pemesanan merchandising – Mendukung program Science Travel: pemesanan tiket, hotel – Mendukung pengadaan print material I-4 (pemesanan percetakan, dsb) 2. Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia – Merumuskan persyaratan dan mekanisme penerimaan anggota – Menyeleksi calon anggota I-4 – Membuat dan mengelola database ilmuwan Indonesia yang tersebar di seluruh dunia – Merancang dan mengelola Reward Program – Mengelola mailing list I-4 3. Divisi Acara, Promosi dan Komunikasi – Mengelola materi program I-4 Talks dan kuliah online – Membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan I-4 di dalam dan di luar Indonesia – Melakukan kegiatan promosi – Membuat press release – Mendukung pembuatan print material I-4 (materi teks dan sosialisasi) – Melakukan komunikasi ke media terkait kegiatan I-4 4. Divisi Grafik dan Multimedia – Mengelola website I-4. – Mengelola program I-4 talk dan kuliah online secara teknis – Mendukung Kegiatan-kegiatan I-4 lainnya: desain poster, grafik dan media pendukung lainnya. – Mendukung Pembuatan Print Material I-4 (buku, brosur, flyer dsb). 5. Divisi Kerjasama dan Pendanaan – Menjadi humas dan juru bicara I-4 kepada masyarakat dan calon sponsor – Bergerak aktif berhubungan dengan sponsorship – Mengelola kerjasama I-4 dengan organisasi atau institusi lain Salam hangat Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia sdm@i4indonesia.org   klik tautan berikut http://bit.ly/oprecI4

    Continue reading
  • October 3, 2018

    Kunjungan I-4 United Kingdom ke KBRI di London

      Pada hari Rabu 26 September 2018, Deputy Managing Director I-4 for UK, Dr. Bagus Muljadi, didampingi oleh Dr. Stevin Pramana, dan Prof. Benny Tjahjono mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk United Kingdom (UK) di London. I-4 dijamu langsung oleh Duta Besar Indonesia Dr. Rizal Sukma, dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), Prof. Aminuddin Aziz. Dr. Muljadi, Assistant Professor di University of Nottingham, selaku perwakilan dari I-4 mengutarakan maksud dari kunjungan tersebut, yaitu sebagai bentuk silahturahmi komunitas akademis Indonesia di UK sekaligus untuk menawarkan berbagai bentuk kerjasama yang bertujuan untuk membentuk kemitraan yang strategis dan bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dibidang pendidikan tinggi baik di UK dan Indonesia. Dr Muljadi menyampaikan pesan bahwa I-4 memiliki visi untuk menjadi proxy pemerintah Indonesia di luar negeri, dan agen knowledge exchange yang dapat menjadi penghubung akademisi-akademisi di Indonesia dengan mitra di luar negeri, khususnya di UK. Dengan posisi strategisnya, para anggota I-4 yang memiliki kedudukan permanen di UK dapat memanfaatkan perannya untuk mempengaruhi kebijakan universitas asalnya untuk membantu memfasilitasi kolaborasi riset, mobilisasi staff dan pelajar, serta pengadaan beasiswa untuk para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studinya di UK. I-4 juga berkeinginan untuk membantu adik-adik dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di UK dalam pengadaan berbagai programnya; seperti IndoFest, ISIC, dsb. Dr. Pramana, Assistant Professor di Newcastle University menceritakan bahwa ada banyak permintaan dari peneliti Indonesia untuk menggunakan alat riset yang tersedia di UK dan bahwa I-4 seyogyanya memberikan akses bagi rekan-rekan yang membutuhkan. Ada juga beberapa program baik yang sudah dilakukan oleh beberapa anggota I-4; Prof. Tjahjono – Professor di Coventry University – misalnya, sudah membantu menciptakan jurnal ilmiah yang dapat menjadi wadah publikasi riset kolaboratif antara para peneliti di UK dan di tanah air. Dr. Muljadi sudah membentuk Indonesian Doctoral Training Partnership yang merupakan buah kerjasama antara University of Nottingham dengan KemenRistekDikti yang menjadi wadah kerjasama ilmuwan UK dan Indonesia dalam membimbing bersama mahasiswa-mahasiswa doktoral Indonesia di Nottingham. Bapak Dubes, Dr. Sukma beserta Atdikbud, Prof. Aziz menyambut baik inisiatif dari rekan-rekan I-4. Dr. Sukma menyampaikan bahwa ada banyak permintaan dari peneliti dan pelajar Indonesia untuk dihubungkan dengan mitra riset yang relevan di UK. Dengan aktifnya I-4 di UK, dapat mempermudah kinerja KBRI dalam mengadakan iklim riset kolaboratif yang efektif dan efisien. Bapak Dubes dan Atdikbud mendukung dan mengundang rekan I-4 untuk menggunakan fasilitas KBRI untuk mengadakan program-program yang dapat memperkuat kolaborasi antara komunitas riset di Indonesia dan di UK – misalnya untuk mengakses dana riset dari Global Challenge Research Fund (GCRF), dan Newton Fund. Untuk itu, dengan dibantu oleh KBRI, I-4 di UK sudah melakukan pendataan ilmuwan-ilmuwan Indonesia di UK. Data tersebut akan menjadi acuan bagi KBRI, dan akan diunggah kedalam platform online I-4 yang dapat dirujuk oleh KBRI sewaktu-waktu dibutuhkan. KBRI juga akan berkontribusi dalam pengadaan platform online yang dimaksud. Kedepan, KBRI ingin mengundang dan bertatap muka dengan segenap rekan-rekan dari I-4 UK yang lain.

    Continue reading