• January 13, 2019

    I-4 Talks: Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia

    Kegiatan I-4 Talks bertajuk “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” ini bertujuan untuk membahas bagaimana ilmuwan diaspora bisa bersinergi dengan beragam stakeholder di Indonesia untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  I-4 Talks dilaksanakan dengan bekerja sama dengan PPI Dunia dan akan mengundang berbagai ilmuwan diaspora sebagai pembicara. Kegiatan ini akan dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 20:00 WIB mulai minggu kedua bulan Januari s.d. minggu terakhir bulan Maret 2019. I-4 Talks ini dilakukan melalui channel YouTube di @media_i4 dan juga PPI TV.  I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” perdana dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Taifo Mahmud, Dr. Muhammad Aziz, dan Dr. Dani Harmanto. I-4 Talks perdana ini dimoderatori oleh Ketua Umum I-4 2018-2020 Dr. Deden Rukmana. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 12 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Taifo Mahmud Dr. Dani Harmanto Dr. Muhammad Aziz

    Continue reading
  • January 13, 2019

    With its diaspora, Indonesia can be next scientific powerhouse

    Author: Bagus Muljadi Indonesia’s scientists’ diaspora are an important resource that can be harnessed by the government for national growth in research and innovation. Despite lagging in scientific publications, Indonesia has the key ingredients to become a major global research hub. However, it is only when the government is willing to have knowledge exchange through its scientists’ diaspora networks can Indonesia capitalize on its massive potential and become the next powerhouse of science. To grow, Indonesia needs to transition from a resource-based to a knowledge-based economy which relies heavily on intellectual capital rather than natural resources. In the knowledge-based economy, the scientific system contributes to key functions of knowledge production, human capital development, and transferring knowledge or exchange of ideas between academia and industry, and providing inputs to problem-solving. China’s government has encouraged knowledge exchange through its diaspora networks and has thus become an important hub for scientific collaboration with North American and European networks. Likewise, Indonesia’s scientists in the diaspora can contribute as agents for knowledge exchange, providing the home-based scientists with links for collaborations, access to new funding sources, and state-of-the-art (often prohibitively expensive to access) experimental apparatuses. The exact format in which the scientists’ diaspora can be utilized optimally should be discussed, to be further formalized in policies. Previously, a narrow sense of patriotism dominated public discourse on the scientists’ diaspora. Whenever reports emerge of prominent scientists of Indonesian descent making it “big” abroad, often the central question is when the said scientist (s) would return home. In a country moving toward a knowledge-based society, “transnational” thinking needs to be the norm — global links may prove more crucial in driving innovation of the country than its human capital “stock”. Scientists in the diaspora do not need to return permanently, but rather could act as agents for Indonesian development in science. They could collaborate with the home-based counterparts, and together contribute to the provision of modern, scientifically-informed policies. Major 21st century problems can only be solved through interdisciplinary, collaborative efforts. Among these problems are sustainable energy, food security, and health. To stand a chance in solving any of these, the global community of scientists must have Indonesia’s active participation. For example, Indonesia has some 40 percent of global geothermal energy reserves. This means a massive 29 gigawatts of potential clean energy which, if cultivated properly, could see Indonesia leading the global renewable energy project in the near future. In food, and health sectors, Indonesia owns some of the most interesting, multivariate subjects of scientific endeavours. All these provide the building blocks for Indonesia’s research and innovation toward becoming the next hub for research collaboration outside the United States, Europe and China. Often obstacles of global collaborative research are the costs of mobilization of researchers, travel for data sampling and research dissemination. These are the areas where the government can step in and catalyse knowledge exchange. Indeed, the Research and Higher Education Ministry has run a series of knowledge-exchange programs to improve the quality of domestic research. In another instance, a select group of scientists from Indonesia’s diaspora were invited back to participate in over a week-long world class scholars symposiumwhich featured a series of discussions with home-based scientists […]

    Continue reading
  • January 13, 2019

    Sinergi Ilmuwan Diaspora

    Penulis: Deden Rukmana (Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2108-2020)  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bersama Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) baru saja mengadakan kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018 pada tanggal 12-18 Agustus. Kegiatan SCKD 2018 ini merupakan kegiatan tahunan ketiga yang mengundang ilmuwan diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia untuk hadir berkolaborasi dan bersinergi dengan mitra mereka di dalam negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pendidikan tinggi di Indonesia. Para ilmuwan diaspora tersebut dihadirkan selama seminggu di Indonesia termasuk presentasi dan diskusi panel di Jakarta dengan sekitar 400 dosen perguruan tinggi se-Indonesia serta mengunjungi perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia pada tanggal 15-17 Agustus 2018. Terdapat 47 ilmuwan diaspora dari 11 negara berpartisipasi dalam kegiatan SCKD 2018 yang dikirim ke 55 perguruan tinggi di daerah termasuk Universitas Negeri Medan, Universitas Mulawarman, Universitas Halu Oleo dan Universitas Cendrawasih. Penulis sendiri ditugaskan ke Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya. Kegiatan SCKD ini memberikan dampak positif bagi kegiatan kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri dengan mitra mereka di dalam negeri termasuk kolaborasi penelitian dan publikasi. Kegiatan ini juga menunjukkan keberadaan negara bagi ilmuwan diaspora yang merupakan komponen penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir ini menjadi momentum penting bagi bersinerginya kembali lmuwan diaspora Indonesia di seluruh dunia. Organisasi I-4 awalnya diinisiasi oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman pada pertengahan tahun 2007. Tujuan pembentukan I-4 ini adalah untuk mengakomodasi seluruh potensi ilmuwan Indonesia di seluruh dunia untuk ikut berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendirian I-4 sendiri dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional (SI) PPI Dunia di Den Haag, Belanda. Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kemudian diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Kegiatan berikutnya adalah penyelenggaraan International Summit pada tanggal 16-18 Desember 2010 di Jakarta. Lebih dari 50 ilmuwan diaspora diundang ke acara tersebut yang dibuka resmi oleh Wakil Presiden Boediono. Kegiatan ini menjadi peristiwa historic bagi pengakuan ilmuwan diaspora sebagai salah satu komponen bangsa oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sayangnya kegiatan ini lebih bersifat seremonial dan tidak ada kegiatan lanjutan untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora tersebut. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi (I-4) dalam mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di seluruh bagian dunia bagi pengembangan iptek dan sumber daya manusia pendidikan tinggi di Indonesia. Pendataan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri telah mulai dilakukan oleh I-4 dengan bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di masing-masing negara, misalnya Amerika Serikat, Jepang, Inggris Raya dan Australia. Data ilmuwan ini menjadi dasar bagi kegiatan-kegiatan I-4 untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri dalam upaya peningkatan sumber daya manusia dan riset di Indonesia. Potensi Ilmuwan Diaspora Potensi diaspora negara-negara lainnya seperti Cina, India, Korea, dan Vietnam telah lebih dari sepuluh tahun yang lalu bersinergi dengan pemerintah negaranya  masing-masing. Potensi ilmuwan diaspora negara-negara tersebut yang tersebar di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, Eropa, Australia dan Jepang telah […]

    Continue reading
  • October 22, 2018

    Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology 2018, di Melbourne Australia

    Ilmuwan Diaspora Indonesia yang tergabung dalam I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia International) Australia dan IARNA (Indonesian Academics and Researchers Network Australia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral Republik Indonesia di Melbourne dan Departemen of Foreign Affairs and Trade (DFAT)-Pemerintahan Australia, mengadakan Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology (IAF-HEART 2018), minggu lalu pada tanggal 16-18 Oktober 2018. Forum tingkat tinggi yang dihadiri oleh senior leadership dan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia ini diselenggarakan di Swinburne University of Technology di Melbourne, Australia. Sekitar 15 universitas dari Indonesia (negeri dan private) dan 10 dari Negara Bagian Victoria berpartisipasi dalam forum ini. Forum ini di buka oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Ms Spica A Tutuhatunewa, dan juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Mr Muhammad Imran Hanafi.  Assoc Prof M Akbar Rhamdhani, yang merupakan Deputy Managing Director I-4 Australia yang juga merangkap sebagai President IARNA menyatakan  bahwa forum ini bertujuan untuk menguatkan hubungan yang sudah ada dan membuat link baru untuk kolaborasi riset dan pedidikan tinggi antar universitas di Indonesia dan juga Australia, khususnya di negara bagian Victoria. Forum ini merupakan ajang untuk share best practice, mengidentifikasi tantangan dan juga kesempatan untuk berkolaborasi. Pada Sesi ke 1, Konsul Jendral Spica Tutuhatunewa memaparkan high level overview hubungan antara Indonesia dan Australia dalam bidang Riset dan Pendidikan Tinggi. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu top innovators among emerging economies, dengan ranking 31 untuk innovation, dan ranking 32 untuk business sophistication. Australia memiliki performa lebih baik dalam area higher education and training (dengan global ranking 9), dan quality of scientific research institutions (global ranking 10). Dr Eugene Sebastian, Director Indonesia-Australia Center, memaparkan tantangan dan kesempatan kolaborasi antar dua negara di sektor pendidikan dengan memberikan contoh kolaborasi di dalam Indonesia-Australia Center, yang merupakan konsorsium riset dari 11 universitas di Indonesia dan Australia. Pada sesi-sesi berikutnya, presentasi dan diskusi panel diadakan untuk meng-eksplor lebih detail mengenai tantangan, kesempatan dan best practice dari kolaborasi riset dan pendidikan tinggi yang dibagi dalam tiga area: 1) STEM (sains, teknologi, teknik dan matematika), 2) Medikal, Ilmu sosial, Art dan Hukum, dan 3) Bisnis, inovasi dan kewirausahaan. Pada Sesi 2 tentang STEM, Prof Geoffrey Brooks dari Swinburne mengemukakan area-area kunci yang dapat di kembangkan labih lanjut untuk kolaborasi seperti, mining, minerals processing, extractive metallurgy, wastes stabilization and processing, alternate and renewable energy, automation and advanced manufacturing systems. Beliau juga mengemukakan bahwa salah satu greatest assets dari Indonesia adalah high quality students/human resources. Dr Adi Susilo, Dekan FMIPA di Universitas Brawijaya, memaparkan bahwa Indonesia itu kaya akan resources tetapi juga rentan terhadap bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa, tsunami, longsor, banjir, kebakaran hutan dan lain-lain. Dari sisi ilmu, mitigasi dari bencana harus diperkuat dan juga pemetaan area bencana juga diperlukan. Dari sisi teknologi, diperlukan riset di information technology untuk monitoring, mencatat dan mengolah data. Prof Karen Hapgood, Dekan Eksekutif, di fakultas sains, teknik dan linkungan, Deakin University, menyatakan perlunya untuk mendorong wanita untuk mengambil karir sebagai peneliti di bidang STEM. Kolaborasi riset projek harus di arahkan dengan menggunakan hubungan dengan industry dan juga menjawab tantagan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, ketahanan cyber, tantangan berkembangnya urbanisasi dan […]

    Continue reading