Kata Pengantar dari Ketua Umum I-4 Periode 2018-2020

Sambutan Ketua Umum I-4
Pembukaan Simposium Cendekia Kelas Dunia Tahun 2018
Hotel Royal Kuningan Jakarta
13 Agustus 2018

Assalamualaikum wr. wb.
Salam sejahtera buat kita semua

Bapak Menteri Ristekdikti (Bapak M. Nasir) yang saya hormati,
Bapak Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti (Prof. Ali Ghufron) dan semua pejabat Kementrian Ristekdikti yg saya hormati,
Rekan-rekan ilmuwan diaspora yang saya hormati dan banggakan,
Para undangan dan panitia Simposium Cendekia Kelas Dunia tahun 2018 yang saya cintai,

Pertama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas perkenan dan hidayahNyalah kita semua dapat berkumpul dalam kegiatan akademis yang sangat penting ini. Semoga dengan berkumpulnya kita di sini dapat mempererat terjalinnya sinergi antara ilmuwan diaspora Indonesia dari seluruh dunia dengan mitranya di tanah air dan dapat berjalan terus secara berkelanjutan bagi pengembangan iptek serta sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang. Amin YRA.

Adalah suatu kehormatan yang luar biasa bagi saya dapat menerima kesempatan berbicara di sini dan saat ini, inshaallah saya akan mencoba untuk menggunakannya sebaik mungkin agar dapat memberikan dampak yg sebesar-besarnya untuk kita semua.

Saya memiliki tiga catatan yang ingin disampaikan dalam kesempatan ini. Pertama, saya ingin mengingatkan kembali apa yg terjadi setahun yl. Pada saat dua orang ilmuwan diaspora menjadi media darling dan diliput beragam media massa. Ilmuwan yang pertama diberitakan di dalam usianya yang masih muda ilmuwan telah mengukir prestasi banyak dalam bidang teknik dirgantara. Tapi kemudian kebohongannya terbongkar dan yang bersangkutan telah meminta maaf. Kemudian tidak lama setelah itu, seorang ilmuwan diaspora lainnya menjadi perhatian media massa berikutnya disebabkan kritik terhadap validitas prestasi yang diakuinya, termasuk menjadi salah satu kandidat penerima hadiah Nobel bidang kedokteran.

Di penghujung tahun lalu, sebuah media nasional memuat Kaleidoskop Sains dan yang dibahas adalah kontroversi kedua ilmuwan diaspora tersebut.

Atas kedua kejadian tersebut, saya berharap melalui kegiatan SCKD 2018 ini, kita semua termasuk media dapat mengubah narasi ilmuwan diaspora Indonesia saat itu. Kita ingin menunjukkan betapa banyaknya prestasi-prestasi ilmuwan-ilmuwan diaspora Indonesia yang sebenarnya dan tidak kalah sangat membanggakan. Selain itu, yang perlu digarisbawahi, betapa besarnya kecintaan mereka terhadap tanah airnya yang inshaallah tidak akan berkurang dan tidak pernah hilang, malah mungkin akan bertambah besar.

Saya catat paling sedikit ada empat ilmuwan Diaspora yang sudah lebih dari 25 tahun lalu meninggalkan Indonesia, Pak Teruna Siahaan, Taifo Mahmud, Dani Harmanto, Dwi Susanto, tapi masih mencintai dan selalu memanggil Indonesia sebagai tanah air mereka. Saya sangat percaya diri hal tersebut dilakukan pula oleh para ilmuwan diaspora lainnya.

Dari 47 ilmuwan diaspora yang hadir pada hari ini ada 12 orang berjabatan full professor termasuk seorang distinguished professor, Teruna Siahaan , Aya and Takeru Higuchi Distinguished Professor and Director of Global Health Center University of Kansas. Kitapun memiliki diaspora dengan jabatan Dekan, Erry Adesta , Dean of Faculty of Engineering, International Islamic University Malaysia. Beberapa diaspora kita pun memegang posisi director seperti Hadi Nur Director of Center for Sustainable Nanomaterial di Universiti Teknologi Malaysia, Abidin Kusno Director York Center for Asian Research, York University, dan Hadi Susanto Director of Research for Mathematical Sciences, University of Essex, United Kingdom dan Alfi Khatib, head of research and innovation faculty of pharmacy di International Islamic University Malaysia.

Ilmuwan diaspora kita pun penuh bertaburan dengan penghargaan di tingkat international dan national, seperti Irwandi Jaswir King Faisal Prize Laureate 2018 in Service to Islam category melalui risetnya tentang produk makanan halal, Muhammad Aziz 2018 Best Paper Award from Japan Society of Energy and Resources, Taufiq Asyhari penerima Samsung Global Research Outreach Award (2017) dan IEEE-EURASIP Best Paper Award pada International Symposium on Wireless Communication Systems (2014).

Haryadi Gunawi menerima Google Faculty Research Award dan National Science Foundation CAREER award. Anton Satria Prabuwono IEEE Systems Man and Cybernetics Society Distinguished Lecturer and Venus International Foundation Outstanding Scientist Award. Akbar Ramdhani yang pernah dapat 3 international awards dari 3 negara yang berbeda untuk 3 riset yang berbeda pada tahun 2015: Marcus Grossman Award dari Amerika Serikat, Mann Redmayne Award dari United Kingdom, dan Metallurgical Society Award dari Canada.

Andrivo Rusydi menerima Singapore National Academy of Science – Young Investigator Award pada tahun 2010 dan telah menerima research grant dengan total lebih dari US$ 40 juta. Hendra Hermawan menerima Acta Biomaterialia Outstanding Reviewer Award, top journal di bidang biomaterial pada tahun ini. Satria Zulkarnaen Bisri dan Hutomo Suryo Wasisto Indonesian Young Materials Science Award dari Material Research Society of Indonesia pada tahun 2017 and 2018.

Ini adalah hanya sebagian kisah sukses dari para ilmuwan diaspora Indonesia. Masih banyak kisah sukses mereka yang tidak diceritakan disini. Prestasi mereka patut dibanggakan. Media massa Indonesia seharusnya dan sebaiknyalah merekam serta mendokumentasikan keberhasilan mereka agar menjadi aspirasi bagi bangsa Indonesia.

Inilah narasi ilmuwan Indonesia yang harus kita kembangkan sesegera mungkin saat ini dan di tahun-tahun yang akan datang. Indonesia memerlukan figur yang berprestasi di tingkat internasional yang bisa menjadi role model bagi anak bangsa.

Catatan Kedua saya adalah impact dari kegiatan WCP 2016 dan SCKD 2017. Kegiatan WCP 2016 di Jakarta yang mengumpulkan 40 ilmuwan diaspora Indonesia menjadi tonggak sejarah penting dalam dinamika ilmuwan diaspora Indonesia. Inilah kegiatan pengumpulan ilmuwan diaspora Indonesia pertama setelah International Summit 2010. Kesempatan bertemunya para ilmuwan diaspora di WCP 2016 dan SCKD 2017 memberikan harapan besar tentang kiprah ilmuwan diaspora bagi pengembangan iptek dan pendidikan tinggi di Indonesia. Kegiatan tahunan yang diprakarsai oleh Ditjen SDID Kemenristekdikti ini adalah langkah yang monumental dan strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sumber daya manusia Indonesia.

Dengan berbekal network dengan para ilmuwan diaspora dalam kegiatan WCP 2016 dan SCKD 2017, saya mencalonkan dan terpilih dalam Musyawarah Internasional I-4 pada tanggal 7 Januari 2018 sebagai Ketua Umum I-4 Periode 2018-2020. Kegiatan pertama yang saya lakukan adalah pembentukan pengurus termasuk Dewan Penasihat dan Managing Director di setiap kawasan I-4 di seluruh dunia. Dewan Penasihat I-4 diketuai oleh Prof. Dr. dr. Ali Ghufron (Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi – Kemenristekdikti) dengan empat orang anggota yaitu Dr. Muhammad Dimyati (Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan – Kemenristekdikti), Prof. Dr. dr. Fasli Djalal (Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional), Dr. Totok Suprayitno (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dan Cecep Herawan (Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri).

Saya membagi kawasan-kawasan I-4 berdasarkan data distribusi lokasi ilmuwan-ilmuwan diaspora. Kawasan-kawasan I-4 tersebut adalah Singapore, Malaysia, Australia, Asia Timur, Timur Tengah dan Afrika, Amerika Serikat, Kanada dan Eropa. Daftar lengkap pengurus I-4 Periode 2018-2020 dapat ditemui di website I-4 di www.i4indonesia.org.

Pendataan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri menjadi prioritas kegiatan I-4. Data ilmuwan ini akan menjadi dasar bagi kegiatan-kegiatan I-4 dalam upaya peningkatan sumber daya manusia dan riset di Indonesia termasuk kegiatan SCKD 2018.

Kawasan I-4 yang telah mengalami banyak perkembangan dan kegiatan adalah I-4 Jepang yang dikomandani oleh Muhammad Aziz. I-4 di Jepang telah melakukan pendataan ilmuwan dan pertemuan ilmuwan dengan Duta Besar Republik Indonesia di Jepang pada tanggal 20 Mei 2018, bertempat di KBRI Tokyo. Pertemuan ini dihadiri sekitar 30 ilmuwan Indonesia di Jepang dan dibuka langsung oleh Dubes Y.M. Arifin Tasrif.

I-4 Chapter Jepang juga akan mengadakan kegiatan Japan-Indonesia International Scientific Conference 2018 (JIISC 2018) pada 28 Oktober 2018 di Osaka, Jepang. Acara JIISC 2018 ini merupakan bentuk kolaborasi dari Formind, I-4, dan Universitas Indonesia. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi media bagi ilmuwan Indonesia di Jepang, Indonesia dan juga kawasan lainnya di dunia untuk bersinergi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Impact lainnya dari WCP 2016 dan SCKD 2017 didokumentasikan dalam buku berjudul “Bunga Rampai Kontribusi Ilmuwan Diaspora dalam Pengembangan Sumber Daya Iptek dan Dikti di Indonesia”. Buku ini merupakan kumpulan 25 tulisan ilmuwan diaspora yang berpartisipasi dalam kegiatan WCP 2016 dan SCKD 2017. Buku ini akan dirilis resmi pada hari Jumat mendatang dan versi e-booknya akan tersedia di website Kemenristekdikti.

Catatan Ketiga saya dalam kesempatan berharga ini adalah ajakan untuk berprestasi dan berkarya di tingkat internasional. Prestasi ke-47 ilmuwan diaspora ini tentunya sangat membanggakan kita semua. Prestasi mereka harus ditiru oleh generasi penerus Indonesia untuk belajar dan berkarya tanpa batas. Saat ini ilmuwan diaspora Indonesia masih dibawah diaspora negara-negara lainnya seperti China, India, Korea, ataupun Vietnam secara kualitas maupun proporsi kuantitas penduduk nasionalnya. Belum ada diaspora Indonesia yang mengajar dan berkarir di top universitas dunia seperti Harvard University, MIT, University of Cambridge ataupun University of Oxford. Kita memerlukan generasi penerus Indonesia yang bisa mengisi peluang di universitas-universitas top dunia tersebut dan lainnya, juga untuk terus mengtransferkan ilmu dan pengalamannya bagi kemajuan tanah air seperti yang kita lakukan saat ini.

Hal lainnya yang perlu ditingkatkan adalah kesetaraan gender dalam ilmuwan diaspora Indonesia. Salah satu ilmuwan kita, Siti Kusujiarti, adalah pakar dalam ilmu gender. Saya merasa yakin beliau kecewa dengan kondisi ini. Hal ini harus dijadikan hal yang tidak kalah pentingnya untuk segera diperbaiki. Saya mengajak para dosen untuk memberikan inspirasi kepada para mahasiswinya juga untuk berkarya tidak hanya di tingkat nasional tapi juga di tingkat internasional. Salah seorang role model bagi mereka saat ini adalah saudari Sastia Prama Putri yang sekarang menjabat Assistant Professor di School of Engineering, Osaka University dan juga sebagai Deputy Managing Director I-4 di Asia Timur yang mengetuai kegiatan Japan-Indonesia International Scientific Conference 2018 (JIISC 2018) pada bulan Oktober mendatang di Osaka, Jepang.

Diantara berderet prestasinya termasuk L’Oreal UNESCO Award for women in science pada tahun 2015 and 5 years highest citation award dari Journal of Bioscience and Bioengineering. Saya yakin banyak puteri-puteri Indonesia yang ingin berkarya seperti Sastia Prama Putri ini dan kita harus sekuat tenaga kita untuk membantu mereka agar bisa mewujudkan harapannya.

Demikian hal-hal yang dapat saya sampaikan. Semoga berkenan dan memberikan dampak bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi di Indonesia.

Terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.

Deden Rukmana

Buku I-4

Kisah 25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia

Buku I-4Mengisahkan tentang perjuangan Ilmuwan Indonesia yang berkiprah di luar negeri dengan latar belakang berbagai ilmu. Buku 25 Kisah Ilmuwan Indonesia yang Mendunia ini menggambarkan bagaimana cara mereka mengatasi berbagai kesulitan hidup dan belajar, berkarir hingga berkeluarga di berbagai negara seperti Amerika, Belanda, Inggris, Jerman, Jepang, Australia, Malaysia, serta masih banyak lainnya. Ditulis oleh 25 mahasiswa terpilih dari berbagai universitas terkemuka yang dimentori oleh tim penulis I-4, buku ini diharapkan mampu memberi inspirasi dan semangat kepada generasi muda Indonesia untuk bermimpi dan berusaha sebaik-baiknya meraih impian mereka dalam pendidikan ke luar negeri setinggi-tingginya, dan pada akhirnya memberi kemajuan bagi Indonesia.

JOIN OUR TEAM
Meet the talent

Our Team