PhD Student University Technology Sydney

January 29, 2019

Kesempatan untuk menjadi PhD student di Universitas Technology Sydney. Dibutuhkan satu orang PhD Student dengan specialisasi biofuel (bioethanol/biodiesel/ biomass or microalgae). Full scholarship akan disediakan. Informasi selengkapnya dapat menghubungi Dr. T.M. Indra Mahlia, Distinguished Professor, School of Information, Systems and Modelling Core Member, Centre for Advanced Modelling and Geospatial lnformation Systems, the University of Technology Sydney. Email ke tmindra.mahlia@uts.edu.au 

Read more

PhD Swinburne Scholarship

January 29, 2019

PhD Project TitleMobile Recycling and Metals Recovery Facilities for Urban Ores: Design, Techno-economic, and Business Evaluations Position PurposeA PhD scholarship is available for a suitable candidate to undertake PhD project on “Mobile Recycling and Metals Recovery Facilities for Urban Ores: Design, Techno-economic, and Business Evaluations”. The successful applicant will carry out the PhD multi-disciplinary research work closely with Professor Akbar Rhamdhani, Dr Yoga Sembada and Dr Kwong-Ming Tse in Swinburne University of Technology in Melbourne, Australia. The project also involves external collaborators of: 1) MIDC (Metal Industries Development Center) – Ministry of Industry Republic of Indonesia, 2) LIPI – BPTM (Indonesian Institute of Sciences – Research Unit for Mineral Technolgy), and 3) Envirostream, Australia.

Read more

I-4 Talks: Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia

January 13, 2019

I-4 Talks: Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia Kegiatan I-4 Talks bertajuk “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” ini bertujuan untuk membahas bagaimana ilmuwan diaspora bisa bersinergi dengan beragam stakeholder di Indonesia untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  I-4 Talks dilaksanakan dengan bekerja sama dengan PPI Dunia dan akan mengundang berbagai ilmuwan diaspora sebagai pembicara. Kegiatan ini akan dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 20:00 WIB mulai minggu kedua bulan Januari s.d. minggu terakhir bulan Maret 2019. I-4 Talks ini dilakukan melalui channel YouTube di @media_i4 dan juga PPI TV.  Episode Perdana I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” perdana dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Taifo Mahmud, Dr. Muhammad Aziz, dan Dr. Dani Harmanto. I-4 Talks perdana ini dimoderatori oleh Ketua Umum I-4 2018-2020 Dr. Deden Rukmana. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 12 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan singkat dari rekaman ini telah disiapkan oleh Erwin Fajar dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini. Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Taifo Mahmud Dr. Dani Harmanto Dr. Muhammad Aziz Episode Kedua I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode ke-2 dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Akbar Rhamdhani, Dr. Bagus Muljadi, dan Dr. Dani Harmanto. I-4 Talks episode ke-2 ini dimoderatori oleh Koordinator PPI Dunia 2018-2019 Fadjar Mulya. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 19 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan dari rekaman ini telah disiapkan oleh Etika Sukma Adiyanti dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini.  Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Akbar Rhamdhani Dr. Bagus Muljadi Dr. Hendra Hermawan Episode Ketiga I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode ketiga dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Oki Muraza, Dr. Agus Sasmito, dan Dr. Sastia Prama Putri. I-4 Talks episode ketiga ini dimoderatori oleh Managing Director I-4 Kawasan Asia Timur Dr. Muhammad Aziz. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 26 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan dari rekaman ini telah disiapkan oleh Ilham Maulidin dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini.  Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Oki Muraza Dr. Agus Sasmito Dr. Sastia Prama Putri Episode Keempat I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode keempat dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Februari 2019 dan menampilkan Dr. Zulfan Tadjoeddin, Dr. Vedi Hadiz, dan Dr. Siti Kusujiarti. I-4 Talks episode keempat ini dimoderatori oleh Hadied Safarayuza, Ketua Komisi Ekonomi PPI Dunia. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 2 Februari ini dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan dari rekaman ini telah disiapkan oleh Fauzi Yusupandi dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini.   Materi presentasi yang disampaikan oleh Dr. Siti Kusujiarti dapat diunduh melalui link ini. Episode Kelima I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode kelima dilaksanakan pada hari Sabtu, […]

Read more

With its diaspora, Indonesia can be next scientific powerhouse

January 13, 2019

Author: Bagus Muljadi Indonesia’s scientists’ diaspora are an important resource that can be harnessed by the government for national growth in research and innovation. Despite lagging in scientific publications, Indonesia has the key ingredients to become a major global research hub. However, it is only when the government is willing to have knowledge exchange through its scientists’ diaspora networks can Indonesia capitalize on its massive potential and become the next powerhouse of science. To grow, Indonesia needs to transition from a resource-based to a knowledge-based economy which relies heavily on intellectual capital rather than natural resources. In the knowledge-based economy, the scientific system contributes to key functions of knowledge production, human capital development, and transferring knowledge or exchange of ideas between academia and industry, and providing inputs to problem-solving. China’s government has encouraged knowledge exchange through its diaspora networks and has thus become an important hub for scientific collaboration with North American and European networks. Likewise, Indonesia’s scientists in the diaspora can contribute as agents for knowledge exchange, providing the home-based scientists with links for collaborations, access to new funding sources, and state-of-the-art (often prohibitively expensive to access) experimental apparatuses. The exact format in which the scientists’ diaspora can be utilized optimally should be discussed, to be further formalized in policies. Previously, a narrow sense of patriotism dominated public discourse on the scientists’ diaspora. Whenever reports emerge of prominent scientists of Indonesian descent making it “big” abroad, often the central question is when the said scientist (s) would return home. In a country moving toward a knowledge-based society, “transnational” thinking needs to be the norm — global links may prove more crucial in driving innovation of the country than its human capital “stock”. Scientists in the diaspora do not need to return permanently, but rather could act as agents for Indonesian development in science. They could collaborate with the home-based counterparts, and together contribute to the provision of modern, scientifically-informed policies. Major 21st century problems can only be solved through interdisciplinary, collaborative efforts. Among these problems are sustainable energy, food security, and health. To stand a chance in solving any of these, the global community of scientists must have Indonesia’s active participation. For example, Indonesia has some 40 percent of global geothermal energy reserves. This means a massive 29 gigawatts of potential clean energy which, if cultivated properly, could see Indonesia leading the global renewable energy project in the near future. In food, and health sectors, Indonesia owns some of the most interesting, multivariate subjects of scientific endeavours. All these provide the building blocks for Indonesia’s research and innovation toward becoming the next hub for research collaboration outside the United States, Europe and China. Often obstacles of global collaborative research are the costs of mobilization of researchers, travel for data sampling and research dissemination. These are the areas where the government can step in and catalyse knowledge exchange. Indeed, the Research and Higher Education Ministry has run a series of knowledge-exchange programs to improve the quality of domestic research. In another instance, a select group of scientists from Indonesia’s diaspora were invited back to participate in over a week-long world class scholars symposiumwhich featured a series of discussions with home-based scientists […]

Read more

Sinergi Ilmuwan Diaspora

January 13, 2019

Penulis: Deden Rukmana (Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2108-2020)  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bersama Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) baru saja mengadakan kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018 pada tanggal 12-18 Agustus. Kegiatan SCKD 2018 ini merupakan kegiatan tahunan ketiga yang mengundang ilmuwan diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia untuk hadir berkolaborasi dan bersinergi dengan mitra mereka di dalam negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pendidikan tinggi di Indonesia. Para ilmuwan diaspora tersebut dihadirkan selama seminggu di Indonesia termasuk presentasi dan diskusi panel di Jakarta dengan sekitar 400 dosen perguruan tinggi se-Indonesia serta mengunjungi perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia pada tanggal 15-17 Agustus 2018. Terdapat 47 ilmuwan diaspora dari 11 negara berpartisipasi dalam kegiatan SCKD 2018 yang dikirim ke 55 perguruan tinggi di daerah termasuk Universitas Negeri Medan, Universitas Mulawarman, Universitas Halu Oleo dan Universitas Cendrawasih. Penulis sendiri ditugaskan ke Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya. Kegiatan SCKD ini memberikan dampak positif bagi kegiatan kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri dengan mitra mereka di dalam negeri termasuk kolaborasi penelitian dan publikasi. Kegiatan ini juga menunjukkan keberadaan negara bagi ilmuwan diaspora yang merupakan komponen penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir ini menjadi momentum penting bagi bersinerginya kembali lmuwan diaspora Indonesia di seluruh dunia. Organisasi I-4 awalnya diinisiasi oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman pada pertengahan tahun 2007. Tujuan pembentukan I-4 ini adalah untuk mengakomodasi seluruh potensi ilmuwan Indonesia di seluruh dunia untuk ikut berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendirian I-4 sendiri dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional (SI) PPI Dunia di Den Haag, Belanda. Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kemudian diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Kegiatan berikutnya adalah penyelenggaraan International Summit pada tanggal 16-18 Desember 2010 di Jakarta. Lebih dari 50 ilmuwan diaspora diundang ke acara tersebut yang dibuka resmi oleh Wakil Presiden Boediono. Kegiatan ini menjadi peristiwa historic bagi pengakuan ilmuwan diaspora sebagai salah satu komponen bangsa oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sayangnya kegiatan ini lebih bersifat seremonial dan tidak ada kegiatan lanjutan untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora tersebut. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi (I-4) dalam mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di seluruh bagian dunia bagi pengembangan iptek dan sumber daya manusia pendidikan tinggi di Indonesia. Pendataan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri telah mulai dilakukan oleh I-4 dengan bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di masing-masing negara, misalnya Amerika Serikat, Jepang, Inggris Raya dan Australia. Data ilmuwan ini menjadi dasar bagi kegiatan-kegiatan I-4 untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri dalam upaya peningkatan sumber daya manusia dan riset di Indonesia. Potensi Ilmuwan Diaspora Potensi diaspora negara-negara lainnya seperti Cina, India, Korea, dan Vietnam telah lebih dari sepuluh tahun yang lalu bersinergi dengan pemerintah negaranya  masing-masing. Potensi ilmuwan diaspora negara-negara tersebut yang tersebar di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, Eropa, Australia dan Jepang telah […]

Read more