Diskusi Bersama Dirjen Penguatan Riset & Pengembangan di Tokyo Institute of Technology

March 29, 2019

Reporter: Dr. Muhammad Aziz (Managing Director I-4 East Asia) Direktur Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Dr. Muhammad Dimyati, yang juga adalah anggota Dewan Pembina I-4 mengadakan diskusi bertajuk “Riset Indonesia: Sudah sejauh mana kita melangkah?” dengan para ilmuwan dan mahasiswa Indonesia di kampus Tokyo Institute of Technology (Tokodai Ookayama Campus) pada hari Kamis, 14 Maret 2019. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dari berbagai pihak termasuk I-4 East Asia, PPI Tokodai, Kemenristekdikti dan Kedubes RI di Jepang. Rekaman dari kegiatan diskusi tersebut juga dapat dilihat dalam link YouTube ini. Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Dimyati dapat pula diunduh di link berikut ini.

Read more

DARI DIASPORA UNTUK INDONESIA

March 28, 2019

DARI DIASPORA UNTUK INDONESIA Sebuah kebanggaan atas pencapaian yang telah dilakukan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional dibawah kepengurusan Prof. Deden Rukmana. Banyak hal yang telah dilakukan dan diperjuangkan bersama Diaspora Indonesia, pemerintah, dan seluruh stakeholder untuk memajukan pendidikan dan riset Teknologi Indonesia. Ini adalah langkah awal yang tentu akan terus diperjuangkan bersama. Salam Ilmuwan Indonesia untuk Dunia! https://edukasi.kompas.com/read/2019/03/27/10493361/mendorong-ilmuwan-diaspora-menjadi-agen-perubahan https://kompas.id/baca/utama/2019/03/28/deden-rukmana-dari-diaspora-untuk-indonesia/https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/03/28/deden-rukmana-from-the-diaspora-for-indonesia/

Read more

PhD Student University Technology Sydney

January 29, 2019

Kesempatan untuk menjadi PhD student di Universitas Technology Sydney. Dibutuhkan satu orang PhD Student dengan specialisasi biofuel (bioethanol/biodiesel/ biomass or microalgae). Full scholarship akan disediakan. Informasi selengkapnya dapat menghubungi Dr. T.M. Indra Mahlia, Distinguished Professor, School of Information, Systems and Modelling Core Member, Centre for Advanced Modelling and Geospatial lnformation Systems, the University of Technology Sydney. Email ke tmindra.mahlia@uts.edu.au 

Read more

With its diaspora, Indonesia can be next scientific powerhouse

January 13, 2019

Author: Bagus Muljadi Indonesia’s scientists’ diaspora are an important resource that can be harnessed by the government for national growth in research and innovation. Despite lagging in scientific publications, Indonesia has the key ingredients to become a major global research hub. However, it is only when the government is willing to have knowledge exchange through its scientists’ diaspora networks can Indonesia capitalize on its massive potential and become the next powerhouse of science. To grow, Indonesia needs to transition from a resource-based to a knowledge-based economy which relies heavily on intellectual capital rather than natural resources. In the knowledge-based economy, the scientific system contributes to key functions of knowledge production, human capital development, and transferring knowledge or exchange of ideas between academia and industry, and providing inputs to problem-solving. China’s government has encouraged knowledge exchange through its diaspora networks and has thus become an important hub for scientific collaboration with North American and European networks. Likewise, Indonesia’s scientists in the diaspora can contribute as agents for knowledge exchange, providing the home-based scientists with links for collaborations, access to new funding sources, and state-of-the-art (often prohibitively expensive to access) experimental apparatuses. The exact format in which the scientists’ diaspora can be utilized optimally should be discussed, to be further formalized in policies. Previously, a narrow sense of patriotism dominated public discourse on the scientists’ diaspora. Whenever reports emerge of prominent scientists of Indonesian descent making it “big” abroad, often the central question is when the said scientist (s) would return home. In a country moving toward a knowledge-based society, “transnational” thinking needs to be the norm — global links may prove more crucial in driving innovation of the country than its human capital “stock”. Scientists in the diaspora do not need to return permanently, but rather could act as agents for Indonesian development in science. They could collaborate with the home-based counterparts, and together contribute to the provision of modern, scientifically-informed policies. Major 21st century problems can only be solved through interdisciplinary, collaborative efforts. Among these problems are sustainable energy, food security, and health. To stand a chance in solving any of these, the global community of scientists must have Indonesia’s active participation. For example, Indonesia has some 40 percent of global geothermal energy reserves. This means a massive 29 gigawatts of potential clean energy which, if cultivated properly, could see Indonesia leading the global renewable energy project in the near future. In food, and health sectors, Indonesia owns some of the most interesting, multivariate subjects of scientific endeavours. All these provide the building blocks for Indonesia’s research and innovation toward becoming the next hub for research collaboration outside the United States, Europe and China. Often obstacles of global collaborative research are the costs of mobilization of researchers, travel for data sampling and research dissemination. These are the areas where the government can step in and catalyse knowledge exchange. Indeed, the Research and Higher Education Ministry has run a series of knowledge-exchange programs to improve the quality of domestic research. In another instance, a select group of scientists from Indonesia’s diaspora were invited back to participate in over a week-long world class scholars symposiumwhich featured a series of discussions with home-based scientists […]

Read more

Sinergi Ilmuwan Diaspora

January 13, 2019

Penulis: Deden Rukmana (Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2108-2020)  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bersama Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) baru saja mengadakan kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018 pada tanggal 12-18 Agustus. Kegiatan SCKD 2018 ini merupakan kegiatan tahunan ketiga yang mengundang ilmuwan diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia untuk hadir berkolaborasi dan bersinergi dengan mitra mereka di dalam negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pendidikan tinggi di Indonesia. Para ilmuwan diaspora tersebut dihadirkan selama seminggu di Indonesia termasuk presentasi dan diskusi panel di Jakarta dengan sekitar 400 dosen perguruan tinggi se-Indonesia serta mengunjungi perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia pada tanggal 15-17 Agustus 2018. Terdapat 47 ilmuwan diaspora dari 11 negara berpartisipasi dalam kegiatan SCKD 2018 yang dikirim ke 55 perguruan tinggi di daerah termasuk Universitas Negeri Medan, Universitas Mulawarman, Universitas Halu Oleo dan Universitas Cendrawasih. Penulis sendiri ditugaskan ke Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya. Kegiatan SCKD ini memberikan dampak positif bagi kegiatan kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri dengan mitra mereka di dalam negeri termasuk kolaborasi penelitian dan publikasi. Kegiatan ini juga menunjukkan keberadaan negara bagi ilmuwan diaspora yang merupakan komponen penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir ini menjadi momentum penting bagi bersinerginya kembali lmuwan diaspora Indonesia di seluruh dunia. Organisasi I-4 awalnya diinisiasi oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman pada pertengahan tahun 2007. Tujuan pembentukan I-4 ini adalah untuk mengakomodasi seluruh potensi ilmuwan Indonesia di seluruh dunia untuk ikut berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendirian I-4 sendiri dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional (SI) PPI Dunia di Den Haag, Belanda. Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kemudian diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Kegiatan berikutnya adalah penyelenggaraan International Summit pada tanggal 16-18 Desember 2010 di Jakarta. Lebih dari 50 ilmuwan diaspora diundang ke acara tersebut yang dibuka resmi oleh Wakil Presiden Boediono. Kegiatan ini menjadi peristiwa historic bagi pengakuan ilmuwan diaspora sebagai salah satu komponen bangsa oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sayangnya kegiatan ini lebih bersifat seremonial dan tidak ada kegiatan lanjutan untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora tersebut. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi (I-4) dalam mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di seluruh bagian dunia bagi pengembangan iptek dan sumber daya manusia pendidikan tinggi di Indonesia. Pendataan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri telah mulai dilakukan oleh I-4 dengan bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di masing-masing negara, misalnya Amerika Serikat, Jepang, Inggris Raya dan Australia. Data ilmuwan ini menjadi dasar bagi kegiatan-kegiatan I-4 untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri dalam upaya peningkatan sumber daya manusia dan riset di Indonesia. Potensi Ilmuwan Diaspora Potensi diaspora negara-negara lainnya seperti Cina, India, Korea, dan Vietnam telah lebih dari sepuluh tahun yang lalu bersinergi dengan pemerintah negaranya  masing-masing. Potensi ilmuwan diaspora negara-negara tersebut yang tersebar di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, Eropa, Australia dan Jepang telah […]

Read more

Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology 2018, di Melbourne Australia

October 22, 2018

Ilmuwan Diaspora Indonesia yang tergabung dalam I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia International) Australia dan IARNA (Indonesian Academics and Researchers Network Australia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral Republik Indonesia di Melbourne dan Departemen of Foreign Affairs and Trade (DFAT)-Pemerintahan Australia, mengadakan Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology (IAF-HEART 2018), minggu lalu pada tanggal 16-18 Oktober 2018. Forum tingkat tinggi yang dihadiri oleh senior leadership dan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia ini diselenggarakan di Swinburne University of Technology di Melbourne, Australia. Sekitar 15 universitas dari Indonesia (negeri dan private) dan 10 dari Negara Bagian Victoria berpartisipasi dalam forum ini. Forum ini di buka oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Ms Spica A Tutuhatunewa, dan juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Mr Muhammad Imran Hanafi.  Assoc Prof M Akbar Rhamdhani, yang merupakan Deputy Managing Director I-4 Australia yang juga merangkap sebagai President IARNA menyatakan  bahwa forum ini bertujuan untuk menguatkan hubungan yang sudah ada dan membuat link baru untuk kolaborasi riset dan pedidikan tinggi antar universitas di Indonesia dan juga Australia, khususnya di negara bagian Victoria. Forum ini merupakan ajang untuk share best practice, mengidentifikasi tantangan dan juga kesempatan untuk berkolaborasi. Pada Sesi ke 1, Konsul Jendral Spica Tutuhatunewa memaparkan high level overview hubungan antara Indonesia dan Australia dalam bidang Riset dan Pendidikan Tinggi. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu top innovators among emerging economies, dengan ranking 31 untuk innovation, dan ranking 32 untuk business sophistication. Australia memiliki performa lebih baik dalam area higher education and training (dengan global ranking 9), dan quality of scientific research institutions (global ranking 10). Dr Eugene Sebastian, Director Indonesia-Australia Center, memaparkan tantangan dan kesempatan kolaborasi antar dua negara di sektor pendidikan dengan memberikan contoh kolaborasi di dalam Indonesia-Australia Center, yang merupakan konsorsium riset dari 11 universitas di Indonesia dan Australia. Pada sesi-sesi berikutnya, presentasi dan diskusi panel diadakan untuk meng-eksplor lebih detail mengenai tantangan, kesempatan dan best practice dari kolaborasi riset dan pendidikan tinggi yang dibagi dalam tiga area: 1) STEM (sains, teknologi, teknik dan matematika), 2) Medikal, Ilmu sosial, Art dan Hukum, dan 3) Bisnis, inovasi dan kewirausahaan. Pada Sesi 2 tentang STEM, Prof Geoffrey Brooks dari Swinburne mengemukakan area-area kunci yang dapat di kembangkan labih lanjut untuk kolaborasi seperti, mining, minerals processing, extractive metallurgy, wastes stabilization and processing, alternate and renewable energy, automation and advanced manufacturing systems. Beliau juga mengemukakan bahwa salah satu greatest assets dari Indonesia adalah high quality students/human resources. Dr Adi Susilo, Dekan FMIPA di Universitas Brawijaya, memaparkan bahwa Indonesia itu kaya akan resources tetapi juga rentan terhadap bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa, tsunami, longsor, banjir, kebakaran hutan dan lain-lain. Dari sisi ilmu, mitigasi dari bencana harus diperkuat dan juga pemetaan area bencana juga diperlukan. Dari sisi teknologi, diperlukan riset di information technology untuk monitoring, mencatat dan mengolah data. Prof Karen Hapgood, Dekan Eksekutif, di fakultas sains, teknik dan linkungan, Deakin University, menyatakan perlunya untuk mendorong wanita untuk mengambil karir sebagai peneliti di bidang STEM. Kolaborasi riset projek harus di arahkan dengan menggunakan hubungan dengan industry dan juga menjawab tantagan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, ketahanan cyber, tantangan berkembangnya urbanisasi dan […]

Read more

OPEN RECRUITMENT PENGURUS I-4 2018-2020

October 8, 2018

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional atau dalam bahasa Inggris International Indonesian Scholars Association disingkat dengan I-4 adalah sebuah wadah ilmuwan Indonesia di dalam dan luar negeri berasal dari konsepsi pengumpulan ilmuwan Indonesia dari seluruh dunia yang diinisiasi oleh PPI Jerman pada medio 2007. Pendiriannya dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional PPI Dunia pada tanggal 3 – 5 Juli 2009 di Den Haag, Belanda dan diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009. Pada awal tahun 2018 ini, terpilih Dr. Deden Rukmana sebagai Ketua Umum I-4 untuk periode kepengurusan 2018-2020. Oleh karena itu, I-4 membuka kesempatan bagi rekan-rekan ilmuwan untuk ikut berpartisipasi dalam kepengurusan I4 periode 2018 – 2020. Berikut penjelasan singkat mengenai Job Desk pada divisi-divisi I-4: 1. Divisi Logistik dan Perlengkapan – Pengadaan keperluan sekretariat I-4: kartu nama, kenang-kenangan, kartu ucapan – Melakukan pemesanan merchandising – Mendukung program Science Travel: pemesanan tiket, hotel – Mendukung pengadaan print material I-4 (pemesanan percetakan, dsb) 2. Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia – Merumuskan persyaratan dan mekanisme penerimaan anggota – Menyeleksi calon anggota I-4 – Membuat dan mengelola database ilmuwan Indonesia yang tersebar di seluruh dunia – Merancang dan mengelola Reward Program – Mengelola mailing list I-4 3. Divisi Acara, Promosi dan Komunikasi – Mengelola materi program I-4 Talks dan kuliah online – Membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan I-4 di dalam dan di luar Indonesia – Melakukan kegiatan promosi – Membuat press release – Mendukung pembuatan print material I-4 (materi teks dan sosialisasi) – Melakukan komunikasi ke media terkait kegiatan I-4 4. Divisi Grafik dan Multimedia – Mengelola website I-4. – Mengelola program I-4 talk dan kuliah online secara teknis – Mendukung Kegiatan-kegiatan I-4 lainnya: desain poster, grafik dan media pendukung lainnya. – Mendukung Pembuatan Print Material I-4 (buku, brosur, flyer dsb). 5. Divisi Kerjasama dan Pendanaan – Menjadi humas dan juru bicara I-4 kepada masyarakat dan calon sponsor – Bergerak aktif berhubungan dengan sponsorship – Mengelola kerjasama I-4 dengan organisasi atau institusi lain Salam hangat Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia sdm@i4indonesia.org   klik tautan berikut http://bit.ly/oprecI4

Read more

Kunjungan I-4 United Kingdom ke KBRI di London

October 3, 2018

  Pada hari Rabu 26 September 2018, Deputy Managing Director I-4 for UK, Dr. Bagus Muljadi, didampingi oleh Dr. Stevin Pramana, dan Prof. Benny Tjahjono mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk United Kingdom (UK) di London. I-4 dijamu langsung oleh Duta Besar Indonesia Dr. Rizal Sukma, dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), Prof. Aminuddin Aziz. Dr. Muljadi, Assistant Professor di University of Nottingham, selaku perwakilan dari I-4 mengutarakan maksud dari kunjungan tersebut, yaitu sebagai bentuk silahturahmi komunitas akademis Indonesia di UK sekaligus untuk menawarkan berbagai bentuk kerjasama yang bertujuan untuk membentuk kemitraan yang strategis dan bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dibidang pendidikan tinggi baik di UK dan Indonesia. Dr Muljadi menyampaikan pesan bahwa I-4 memiliki visi untuk menjadi proxy pemerintah Indonesia di luar negeri, dan agen knowledge exchange yang dapat menjadi penghubung akademisi-akademisi di Indonesia dengan mitra di luar negeri, khususnya di UK. Dengan posisi strategisnya, para anggota I-4 yang memiliki kedudukan permanen di UK dapat memanfaatkan perannya untuk mempengaruhi kebijakan universitas asalnya untuk membantu memfasilitasi kolaborasi riset, mobilisasi staff dan pelajar, serta pengadaan beasiswa untuk para pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studinya di UK. I-4 juga berkeinginan untuk membantu adik-adik dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di UK dalam pengadaan berbagai programnya; seperti IndoFest, ISIC, dsb. Dr. Pramana, Assistant Professor di Newcastle University menceritakan bahwa ada banyak permintaan dari peneliti Indonesia untuk menggunakan alat riset yang tersedia di UK dan bahwa I-4 seyogyanya memberikan akses bagi rekan-rekan yang membutuhkan. Ada juga beberapa program baik yang sudah dilakukan oleh beberapa anggota I-4; Prof. Tjahjono – Professor di Coventry University – misalnya, sudah membantu menciptakan jurnal ilmiah yang dapat menjadi wadah publikasi riset kolaboratif antara para peneliti di UK dan di tanah air. Dr. Muljadi sudah membentuk Indonesian Doctoral Training Partnership yang merupakan buah kerjasama antara University of Nottingham dengan KemenRistekDikti yang menjadi wadah kerjasama ilmuwan UK dan Indonesia dalam membimbing bersama mahasiswa-mahasiswa doktoral Indonesia di Nottingham. Bapak Dubes, Dr. Sukma beserta Atdikbud, Prof. Aziz menyambut baik inisiatif dari rekan-rekan I-4. Dr. Sukma menyampaikan bahwa ada banyak permintaan dari peneliti dan pelajar Indonesia untuk dihubungkan dengan mitra riset yang relevan di UK. Dengan aktifnya I-4 di UK, dapat mempermudah kinerja KBRI dalam mengadakan iklim riset kolaboratif yang efektif dan efisien. Bapak Dubes dan Atdikbud mendukung dan mengundang rekan I-4 untuk menggunakan fasilitas KBRI untuk mengadakan program-program yang dapat memperkuat kolaborasi antara komunitas riset di Indonesia dan di UK – misalnya untuk mengakses dana riset dari Global Challenge Research Fund (GCRF), dan Newton Fund. Untuk itu, dengan dibantu oleh KBRI, I-4 di UK sudah melakukan pendataan ilmuwan-ilmuwan Indonesia di UK. Data tersebut akan menjadi acuan bagi KBRI, dan akan diunggah kedalam platform online I-4 yang dapat dirujuk oleh KBRI sewaktu-waktu dibutuhkan. KBRI juga akan berkontribusi dalam pengadaan platform online yang dimaksud. Kedepan, KBRI ingin mengundang dan bertatap muka dengan segenap rekan-rekan dari I-4 UK yang lain.

Read more

Tahun Baru Islam 1440 H

September 11, 2018

Segenap keluarga besar Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional mengucapkan selamat tahun baru islam 1440 H. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” semoga momentum hijrah ini menjadikan sumber kebaikan untuk kita semua

Read more

Pertemuan I-4 Chapter Jepang

July 25, 2018

JEPANG-Pada  tanggal 20 Mei 2018, bertempat di KBRI Tokyo, I-4 Chapter Jepang telah mengadakan pertemuan perdananya yang dihadiri sekitar 30 para ilmuwan di seluruh Jepang. Acara ini dibuka secara langsung oleh Dubes RI Tokyo Y.M. Arifin Tasrif dan juga dihadiri dan didukung oleh Atase Pendidikan KBRI Tokyo, Alinda Fitriany Malik Zain. Acara diawali dengan pengenalan terkait I-4 yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Aziz (Tokyo Institute of Technology) selaku Managing Director I-4 for East Asia, dan acara selanjutnya dilanjutkan dengan sambutan oleh Dubes RI Tokyo Y.M. Arifin Tasrif. Bapak Dubes menjelaskan beberapa hal terkait dengan potensi para ilmuwan diaspora dan juga beberapa arahan-arahan terkait dengan pentingnya program I-4 yang tepat guna, inventarisasi segala potensi yang ada, dan outcome yang nyata bagi Indonesia. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing anggota I-4 Chapter Jepang berikut bidang keahlian dan pengalaman berkolaborasi dengan partner di Indonesia yang sudah dan sedang dilaksanakan oleh masing-masing anggota.   Pada sesi kedua, dilaksanakan short lecture oleh salah satu senior I-4 Chapter Jepang, Prof. Wuled Lenggoro (Tokyo University of Agriculture and Technology) dengan tema utama “Sharing of Research Collaboration”. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan presentasi singkat oleh Dr. Satria Zulkarnain (RIKEN) terkait dengan “Research Policy/System”. Sebelum acara ditutup, Dr. Sastia Putri (Osaka University) menyampaikan penjelasan terkait dengan kegiatan Japan-Indonesia International Scientific Conference 2018 (JIISC 2018) yang akan dilaksanakan pada 28 Oktober 2018 di Osaka, Jepang. Acara JIISC kali ini merupakan bentuk kolaborasi dari Formind, I-4, dan Universitas Indonesia. Acara pertemuan selanjutnya direncanakan pada September di Tokyo dan Oktober di Osaka.

Read more