SEPULUH TAHUN DEKLARASI IKATAN ILMUWAN INDONESIA INTERNASIONAL (I-4)

July 7, 2019

5 Juli 2009 merupakan hari bersejarah bagi I-4. Tepat pada kegiatan Simposium Internasional PPI-Dunia tahun 2009 di Den Haag, di deklarasikanlah pembentukan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) oleh para pelajar indonesia yang tengah menimba ilmu dari berbagai penjuru dunia. Deklarasi pembentukan I-4 ini menjadi awal berkembangnya wadah bagi ilmuwan akademisi maupun profesional yang sedang berkarir di luar Indonesia untuk berkumpul dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia. Meski begitu, perjalanan I-4 tidaklah mudah dan perlu perjuangan. Jarak dan luasnya cakupan organisasi menjadi tantangan I-4 untuk membangun jaringan keilmuwan yang solid dan satu visi demi Indonesia. Hari ini, 5 Juli 2019 adalah bukti nyata kehadiran I-4 sebagai wadah Ilmuwan Indonesia Internasional berkontribusi untuk Indonesia meski dari berbagai negara tinggal yang beda. Pencapaian demi pencapaian telah dilakukan bersama, mulai dari program rutin I-4 Talks, I-4 Lectures, beberapa kegiatan langsung, hingga membangun lectures online ke beberapa kampus di dalam negeri dengan menghadirkan Ilmuwan Diaspora Indonesia dari berbagai negara dalam topik keilmuwan tertentu. Tentu pencapaian ini bukan semata untuk I-4, namun untuk kemajuan bangsa Indonesia. Dirgahayu I-4 yang ke-10. Salam Ilmuwan Indonesia untuk Dunia!

Read more

INAUGURAL I-4 LECTURES -PHYSICS, MATERIALS AND MATHEMATICS CLUSTER

July 2, 2019

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional bekerjasama dengan dua Universitas dalam negeri, yaitu Universitas Tanjungpura (Pontianak) dan Universitas Lambung Mangkurat (Banjarmasin), mempersembahkan kegiatan I-4 Lecture Daring (online) perdana Kluster Fisika, Material dan Matematika yang menghadirkan Ilmuwan Diaspora Indonesia. Pembicara di edisi perdana ini adalah: Prof. Lydia Helena Wong Associate Professor School of Materials Science & Engineering Nanyang Technological University, Singapore. Tema : Materials for energy and sustainability. dan Prof. Andrivo Rusydi Associate Professor Department of Physics National University of Singapore. Tema : More than more and beyond and how researches in Indonesia can contribute. Acara dibuka langsung oleh: Prof. Deden Rukmana Professor and Chairperson of the Department of Community and Regional Planning at Alabama A&M University (USA) Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional Prof. Dr. Ismunandar Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Prof. Dr. Soetarto Hadi Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H., M.Hum Rektor Universitas Tanjungpura Moderator H. Afghani Jayuska, S.Si., M.Si. Dekan Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Kegiatan dilaksanakan pada: Selasa, 02 Juli 2019 Pk 09.00 WIB Rekaman kegiatan dapat dilihat di Channel YouTube media_i4 atau klik tautan di bawah https//youtu.be/otgmayoEYTU @media_i4 Untuk materi presentasi dari Prof. Lydia Helena Wong dapat diunduh di link ini.

Read more

I-4 LECTURE : Pengembangan Studi dan Penelitian Kimia dan Farmasi di Institusi Dalam Negeri

April 3, 2019

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) bekerjasama dengan 3 universitas di tanah air yaitu Universitas Lampung, Universitas Jambi, dan Universitas Bengkulu, mempersembahkan kegiatan I-4 Lecture Daring (online) perdana yang menghadirkan Ilmuwan Diaspora Indonesia. Kegiatan dilaksanakan pada : Kamis, 04 April 2019Jam 09.00 WIB Pembicara di edisi perdana ini adalah: Prof. Teruna SiahaanAya and Takeru Higuchi Distinguished Professor Associate Chair, Pharmaceutical Chemistry Co-Director, NIH Biotechnology Training ProgramSchool of Pharmacy – Pharmaceutical Chemistry, Kansas University (USA) Acara dibuka langsung oleh: Dr. Deden RukmanaProfessor and Chairperson of the Department of Community and Regional Planning at Alabama A&M University (USA)Ketua Umum I-4 Periode 2018-2020 Naskah kata sambutan dan pembukaan dari Ketua Umum I-4 dapat diunduh di link ini. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh seluruh peserta. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh: Prof. Dr. IsmunandarDirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Dr. Ridwan Nurazi, SE., M.Sc.Rektor Universitas Bengkulu Prof. Johni Najwan, S.H., M.H., Ph.D.Rektor Universitas Jambi Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.PRektor Universitas Lampung Bertindak selaku moderator dalam kegiatan ini adalah: Sal Prima Yudha, PhDKetua Prodi Farmasi, Universitas Bengkulu Kegiatan ini dapat disaksikan live melalui Channel YouTube media_i4 atau klik tautan di bawah : Presentasi yang disampaikan oleh Prof. Teruna Siahaan dapat diunduh dari link berikut ini. Setelah presentasi dari Prof. Teruna Siahaan yang berlangsung sekitar 50 menit, Dr. Sal Prima Yudha selaku moderator memimpin sesi tanya jawab yang diikuti oleh seluruh peserta di Universitas Bengkulu, Universitas Lampung and Universitas Jambi. Berikut adalah beberapa foto dan video dari kegiatan I-4 Lecture ini yang berlangsung di Universitas Bengkulu, Universitas Lampung and Universitas Jambi. Berikut ini adalah beberapa testimoni tentang kegiatan I-4 Lecture ini: Alhamdulillah di Universitas Jambi dihadiri sekitar 200 orang , terdiri dari dosen dan mahasiswa dari Program Studi Kimia, Program Studi Teknik Kimia serta Program Studi Pendidikan Kimia. Dengan kegiatan ini, tidak hanya mahasiswa tetapi juga dosen di Universitas Jambi yg termotivasi dan mendapat inspirasi. Semoga kegiatan ini bisa menjadi katalis anak-anak bangsa, terutama yg masih muda, untuk mencontoh kesuksesan Prof. Deden dan Prof.Teruna (Dr. Nazarudin, Universitas Jambi) “Belajar dan mendekat kepada para cendikia adalah salah satu jalan menuju hari esok yang lebih baik”, Terima kasih Prof. Deden Rukmana selaku Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) (2018-2020) yang telah memberikan kesempatan kepada kami (dosen dan mahasiswa) untuk mengenal dunia lebih luas melalui kegiatan yang sangat bermanfaat ini. Terima kasih kepada Prof. Teruna J. Siahaan selaku Chair of Chemistry and Pharmacy Cluster pada I-4 yang telah bersedia membimbing kami dan berbagi pada kegiatan perdana ini. Semoga ke depan, semakin banyak mahasiswa yang termotivasi untuk meraih kesuksesan seperti Prof. Deden dan Prof. Teruna serta Diaspora lainnya menuju Indonesia yang lebih maju. Amiin. (Dr. Sal Prima Yudha, Universitas Bengkulu)

Read more

Diskusi Bersama Dirjen Penguatan Riset & Pengembangan di Tokyo Institute of Technology

March 29, 2019

Reporter: Dr. Muhammad Aziz (Managing Director I-4 East Asia) Direktur Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Dr. Muhammad Dimyati, yang juga adalah anggota Dewan Pembina I-4 mengadakan diskusi bertajuk “Riset Indonesia: Sudah sejauh mana kita melangkah?” dengan para ilmuwan dan mahasiswa Indonesia di kampus Tokyo Institute of Technology (Tokodai Ookayama Campus) pada hari Kamis, 14 Maret 2019. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan dari berbagai pihak termasuk I-4 East Asia, PPI Tokodai, Kemenristekdikti dan Kedubes RI di Jepang. Rekaman dari kegiatan diskusi tersebut juga dapat dilihat dalam link YouTube ini. Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Dimyati dapat pula diunduh di link berikut ini.

Read more

Laporan Kegiatan Japan Indonesia International Scientific Conference 2018

February 12, 2019

Oleh: Dr. Sastia Prama Putri (Deputi Managing Director I-4 Kawasan East Asia) Saat ini, dunia sudah masuk ke dalam revolusi industri terbaru, yaitu Industri 4.0. Revolusi industri ini berpusat pada bidang-bidang teknologi, khususnya bidang informatika seperti Internet of Things, Automation, dan juga Big Data Analytics yang bisa menjangkau berbagai sektor mulai dari tekstil hingga pertanian. Kemajuan teknologi ini dapat menjadi pedang bermata dua bagi kondisi sosial masyarakat. Jika tidak diatasi dengan baik, hal-hal seperti malfungsi pada mesin dapat berakibat fatal bagi masyarakat sekitarnya. Namun, jika dimanfaatkan dengan baik, kemajuan teknologi ini dapat memberikan dampak positif yang sangat besar bagi kemajuan suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang sangat banyak. Oleh karena itu, hal ini penting untuk dikaji lebih lanjut. Peduli akan isu ini, Forum Peneliti Muda Indonesia (Formind), Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang), dan Universitas Indonesia (UI) mengadakan konferensi bertajuk “Japan-Indonesia International Scientific Conference” atau yang dapat disingkat JIISC 2018. Konferensi yang diadakan di Ichou Kaikan, Osaka University, Osaka, Jepang pada tanggal 28 Oktober 2018 ini memiliki tema “Industrial Revolution 4.0 for Smart Society” yang melingkupi ranah teknik (Engineering Science), Hayati (Life Sciences), dan Sosial (Social Sciences). Pemilihan Jepang sebagai tuan rumah didasari pada kemajuan teknologi yang dimiliki Jepang dapat menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk menjadi negara yang lebih makmur. Selain itu, tahun 2018 merupakan tahun perayaan 60 tahun hubungan diplomatis Indonesia-Jepang, sehingga diharapkan dengan diadakannya konferensi ini dapat mempererat serta membangun relasi antara Indonesia dan Jepang dengan lebih baik lagi. Kegiatan JIISC 2018 ini merupakan diskusi keilmuan mengenai bagaimana kita dapat berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik serta aplikasi dari keilmuan yang kita miliki. Kegiatan ini dituangkan dalam bentuk sesi presentasi oral dari topik teknik, hayati, dan sosial, serta sesi presentasi poster, luncheon, dan kegiatan networking yang disponsori oleh KBRI Tokyo. Konferensi JIISC yang dimulai pada pukul 9 pagi ini dibuka dengan kata sambutan dari ketua acara Prof. Eiichiro Fukusaki dan Assistant Prof. Sastia Prama Putri dari Osaka University, kemudian kata sambutan dari perwakilan Rektorat Osaka University sebagai tuan rumah, Prof. Genta Kawahara, perwakilan penyelenggara dari Rektor Universitas Indonesia, Prof. Muhammad Anis, dan juga perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia di Jepang, Bapak Mochamad Abas Ridwan. Acara dilanjutkan dengan presentasi dari Prof. Muhammad Anis, Prof. Genta Kawahara, dan Dr. Yanuar Nugroho dari Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia untuk membicarakan mengenai peran Industrial Revolution 4.0 and Smart Society dalam kemajuan Indonesia dan Jepang. Setelah sesi tersebut, peserta dibagi menjadi tiga ruangan yang mewakili tiga kelompok keilmuan, yaitu teknik, hayati, dan social. Pada masing-masing ruangan terdapat sesi presentasi kunci dari narasumber terpilih untuk menjelaskan kontribusi bidang keilmuannya dalam mencapai Industrial Revolution 4.0 and Smart Society, seperti Dr. Neni Nurainy, Assoc. Prof. Sulfikar Amir, Prof. Made Astawan, Prof. I Nyoman Pugeg, Assoc. Prof. Zulfan Tadjoeddin, dan Assoc. Prof. Wuled Lenggoro. Sesi dilanjutkan dengan sesi presentasi dari ilmuwan dan ilmuwan muda dari seluruh Indonesia dan juga negara lain seperti Jepang dan Taiwan yang merupakan peserta kegiatan JIISC 2018. Seluruh sesi diskusi keilmuan tersebut ditutup dengan satu sesi presentasi umum dari Prof. Eiichiro Fukusaki mengenai peran teknologi untuk mencapai Industrial Revolution 4.0 […]

Read more

I-4 Talks: Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia

January 13, 2019

I-4 Talks: Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia Kegiatan I-4 Talks bertajuk “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” ini bertujuan untuk membahas bagaimana ilmuwan diaspora bisa bersinergi dengan beragam stakeholder di Indonesia untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  I-4 Talks dilaksanakan dengan bekerja sama dengan PPI Dunia dan akan mengundang berbagai ilmuwan diaspora sebagai pembicara. Kegiatan ini akan dilaksanakan setiap hari Sabtu pukul 20:00 WIB mulai minggu kedua bulan Januari s.d. minggu terakhir bulan Maret 2019. I-4 Talks ini dilakukan melalui channel YouTube di @media_i4 dan juga PPI TV.  Episode Perdana I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” perdana dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Taifo Mahmud, Dr. Muhammad Aziz, dan Dr. Dani Harmanto. I-4 Talks perdana ini dimoderatori oleh Ketua Umum I-4 2018-2020 Dr. Deden Rukmana. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 12 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan singkat dari rekaman ini telah disiapkan oleh Erwin Fajar dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini. Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Taifo Mahmud Dr. Dani Harmanto Dr. Muhammad Aziz Episode Kedua I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode ke-2 dilaksanakan pada hari Sabtu, 19 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Akbar Rhamdhani, Dr. Bagus Muljadi, dan Dr. Dani Harmanto. I-4 Talks episode ke-2 ini dimoderatori oleh Koordinator PPI Dunia 2018-2019 Fadjar Mulya. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 19 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan dari rekaman ini telah disiapkan oleh Etika Sukma Adiyanti dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini.  Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Akbar Rhamdhani Dr. Bagus Muljadi Dr. Hendra Hermawan Episode Ketiga I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode ketiga dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 Januari 2019 dan menampilkan Dr. Oki Muraza, Dr. Agus Sasmito, dan Dr. Sastia Prama Putri. I-4 Talks episode ketiga ini dimoderatori oleh Managing Director I-4 Kawasan Asia Timur Dr. Muhammad Aziz. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 26 Januari tersebut dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan dari rekaman ini telah disiapkan oleh Ilham Maulidin dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini.  Sementara materi presentasi yang disampaikan oleh ketiga pembicara tersebut dapat diunduh melalui link berikut ini. Dr. Oki Muraza Dr. Agus Sasmito Dr. Sastia Prama Putri Episode Keempat I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode keempat dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Februari 2019 dan menampilkan Dr. Zulfan Tadjoeddin, Dr. Vedi Hadiz, dan Dr. Siti Kusujiarti. I-4 Talks episode keempat ini dimoderatori oleh Hadied Safarayuza, Ketua Komisi Ekonomi PPI Dunia. Rekaman I-4 pada hari Sabtu, 2 Februari ini dapat dilihat pada YouTube channel @media_i4 ini. Laporan dari rekaman ini telah disiapkan oleh Fauzi Yusupandi dari Divisi Grafik dan Multimedia I-4 seperti dapat dibaca di link ini.   Materi presentasi yang disampaikan oleh Dr. Siti Kusujiarti dapat diunduh melalui link ini. Episode Kelima I-4 Talks “Sinergi Ilmuwan Diaspora untuk Kemajuan Indonesia” episode kelima dilaksanakan pada hari Sabtu, […]

Read more

With its diaspora, Indonesia can be next scientific powerhouse

January 13, 2019

Author: Bagus Muljadi Indonesia’s scientists’ diaspora are an important resource that can be harnessed by the government for national growth in research and innovation. Despite lagging in scientific publications, Indonesia has the key ingredients to become a major global research hub. However, it is only when the government is willing to have knowledge exchange through its scientists’ diaspora networks can Indonesia capitalize on its massive potential and become the next powerhouse of science. To grow, Indonesia needs to transition from a resource-based to a knowledge-based economy which relies heavily on intellectual capital rather than natural resources. In the knowledge-based economy, the scientific system contributes to key functions of knowledge production, human capital development, and transferring knowledge or exchange of ideas between academia and industry, and providing inputs to problem-solving. China’s government has encouraged knowledge exchange through its diaspora networks and has thus become an important hub for scientific collaboration with North American and European networks. Likewise, Indonesia’s scientists in the diaspora can contribute as agents for knowledge exchange, providing the home-based scientists with links for collaborations, access to new funding sources, and state-of-the-art (often prohibitively expensive to access) experimental apparatuses. The exact format in which the scientists’ diaspora can be utilized optimally should be discussed, to be further formalized in policies. Previously, a narrow sense of patriotism dominated public discourse on the scientists’ diaspora. Whenever reports emerge of prominent scientists of Indonesian descent making it “big” abroad, often the central question is when the said scientist (s) would return home. In a country moving toward a knowledge-based society, “transnational” thinking needs to be the norm — global links may prove more crucial in driving innovation of the country than its human capital “stock”. Scientists in the diaspora do not need to return permanently, but rather could act as agents for Indonesian development in science. They could collaborate with the home-based counterparts, and together contribute to the provision of modern, scientifically-informed policies. Major 21st century problems can only be solved through interdisciplinary, collaborative efforts. Among these problems are sustainable energy, food security, and health. To stand a chance in solving any of these, the global community of scientists must have Indonesia’s active participation. For example, Indonesia has some 40 percent of global geothermal energy reserves. This means a massive 29 gigawatts of potential clean energy which, if cultivated properly, could see Indonesia leading the global renewable energy project in the near future. In food, and health sectors, Indonesia owns some of the most interesting, multivariate subjects of scientific endeavours. All these provide the building blocks for Indonesia’s research and innovation toward becoming the next hub for research collaboration outside the United States, Europe and China. Often obstacles of global collaborative research are the costs of mobilization of researchers, travel for data sampling and research dissemination. These are the areas where the government can step in and catalyse knowledge exchange. Indeed, the Research and Higher Education Ministry has run a series of knowledge-exchange programs to improve the quality of domestic research. In another instance, a select group of scientists from Indonesia’s diaspora were invited back to participate in over a week-long world class scholars symposiumwhich featured a series of discussions with home-based scientists […]

Read more

Sinergi Ilmuwan Diaspora

January 13, 2019

Penulis: Deden Rukmana (Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2108-2020)  Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bersama Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) baru saja mengadakan kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2018 pada tanggal 12-18 Agustus. Kegiatan SCKD 2018 ini merupakan kegiatan tahunan ketiga yang mengundang ilmuwan diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia untuk hadir berkolaborasi dan bersinergi dengan mitra mereka di dalam negeri untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pendidikan tinggi di Indonesia. Para ilmuwan diaspora tersebut dihadirkan selama seminggu di Indonesia termasuk presentasi dan diskusi panel di Jakarta dengan sekitar 400 dosen perguruan tinggi se-Indonesia serta mengunjungi perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia pada tanggal 15-17 Agustus 2018. Terdapat 47 ilmuwan diaspora dari 11 negara berpartisipasi dalam kegiatan SCKD 2018 yang dikirim ke 55 perguruan tinggi di daerah termasuk Universitas Negeri Medan, Universitas Mulawarman, Universitas Halu Oleo dan Universitas Cendrawasih. Penulis sendiri ditugaskan ke Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya. Kegiatan SCKD ini memberikan dampak positif bagi kegiatan kolaborasi antara ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri dengan mitra mereka di dalam negeri termasuk kolaborasi penelitian dan publikasi. Kegiatan ini juga menunjukkan keberadaan negara bagi ilmuwan diaspora yang merupakan komponen penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir ini menjadi momentum penting bagi bersinerginya kembali lmuwan diaspora Indonesia di seluruh dunia. Organisasi I-4 awalnya diinisiasi oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman pada pertengahan tahun 2007. Tujuan pembentukan I-4 ini adalah untuk mengakomodasi seluruh potensi ilmuwan Indonesia di seluruh dunia untuk ikut berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendirian I-4 sendiri dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional (SI) PPI Dunia di Den Haag, Belanda. Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) kemudian diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Kegiatan berikutnya adalah penyelenggaraan International Summit pada tanggal 16-18 Desember 2010 di Jakarta. Lebih dari 50 ilmuwan diaspora diundang ke acara tersebut yang dibuka resmi oleh Wakil Presiden Boediono. Kegiatan ini menjadi peristiwa historic bagi pengakuan ilmuwan diaspora sebagai salah satu komponen bangsa oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sayangnya kegiatan ini lebih bersifat seremonial dan tidak ada kegiatan lanjutan untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora tersebut. Kegiatan SCKD dalam tiga tahun terakhir memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi (I-4) dalam mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di seluruh bagian dunia bagi pengembangan iptek dan sumber daya manusia pendidikan tinggi di Indonesia. Pendataan potensi ilmuwan diaspora Indonesia di luar negeri telah mulai dilakukan oleh I-4 dengan bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di masing-masing negara, misalnya Amerika Serikat, Jepang, Inggris Raya dan Australia. Data ilmuwan ini menjadi dasar bagi kegiatan-kegiatan I-4 untuk mensinergikan potensi ilmuwan diaspora Indonesia dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri dalam upaya peningkatan sumber daya manusia dan riset di Indonesia. Potensi Ilmuwan Diaspora Potensi diaspora negara-negara lainnya seperti Cina, India, Korea, dan Vietnam telah lebih dari sepuluh tahun yang lalu bersinergi dengan pemerintah negaranya  masing-masing. Potensi ilmuwan diaspora negara-negara tersebut yang tersebar di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, Eropa, Australia dan Jepang telah […]

Read more

Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology 2018, di Melbourne Australia

October 22, 2018

Ilmuwan Diaspora Indonesia yang tergabung dalam I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia International) Australia dan IARNA (Indonesian Academics and Researchers Network Australia) bekerjasama dengan Konsulat Jendral Republik Indonesia di Melbourne dan Departemen of Foreign Affairs and Trade (DFAT)-Pemerintahan Australia, mengadakan Indonesia-Australia Forum on Higher Education, Research and Technology (IAF-HEART 2018), minggu lalu pada tanggal 16-18 Oktober 2018. Forum tingkat tinggi yang dihadiri oleh senior leadership dan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia dan Australia ini diselenggarakan di Swinburne University of Technology di Melbourne, Australia. Sekitar 15 universitas dari Indonesia (negeri dan private) dan 10 dari Negara Bagian Victoria berpartisipasi dalam forum ini. Forum ini di buka oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Ms Spica A Tutuhatunewa, dan juga dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Mr Muhammad Imran Hanafi.  Assoc Prof M Akbar Rhamdhani, yang merupakan Deputy Managing Director I-4 Australia yang juga merangkap sebagai President IARNA menyatakan  bahwa forum ini bertujuan untuk menguatkan hubungan yang sudah ada dan membuat link baru untuk kolaborasi riset dan pedidikan tinggi antar universitas di Indonesia dan juga Australia, khususnya di negara bagian Victoria. Forum ini merupakan ajang untuk share best practice, mengidentifikasi tantangan dan juga kesempatan untuk berkolaborasi. Pada Sesi ke 1, Konsul Jendral Spica Tutuhatunewa memaparkan high level overview hubungan antara Indonesia dan Australia dalam bidang Riset dan Pendidikan Tinggi. Beliau memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu top innovators among emerging economies, dengan ranking 31 untuk innovation, dan ranking 32 untuk business sophistication. Australia memiliki performa lebih baik dalam area higher education and training (dengan global ranking 9), dan quality of scientific research institutions (global ranking 10). Dr Eugene Sebastian, Director Indonesia-Australia Center, memaparkan tantangan dan kesempatan kolaborasi antar dua negara di sektor pendidikan dengan memberikan contoh kolaborasi di dalam Indonesia-Australia Center, yang merupakan konsorsium riset dari 11 universitas di Indonesia dan Australia. Pada sesi-sesi berikutnya, presentasi dan diskusi panel diadakan untuk meng-eksplor lebih detail mengenai tantangan, kesempatan dan best practice dari kolaborasi riset dan pendidikan tinggi yang dibagi dalam tiga area: 1) STEM (sains, teknologi, teknik dan matematika), 2) Medikal, Ilmu sosial, Art dan Hukum, dan 3) Bisnis, inovasi dan kewirausahaan. Pada Sesi 2 tentang STEM, Prof Geoffrey Brooks dari Swinburne mengemukakan area-area kunci yang dapat di kembangkan labih lanjut untuk kolaborasi seperti, mining, minerals processing, extractive metallurgy, wastes stabilization and processing, alternate and renewable energy, automation and advanced manufacturing systems. Beliau juga mengemukakan bahwa salah satu greatest assets dari Indonesia adalah high quality students/human resources. Dr Adi Susilo, Dekan FMIPA di Universitas Brawijaya, memaparkan bahwa Indonesia itu kaya akan resources tetapi juga rentan terhadap bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa, tsunami, longsor, banjir, kebakaran hutan dan lain-lain. Dari sisi ilmu, mitigasi dari bencana harus diperkuat dan juga pemetaan area bencana juga diperlukan. Dari sisi teknologi, diperlukan riset di information technology untuk monitoring, mencatat dan mengolah data. Prof Karen Hapgood, Dekan Eksekutif, di fakultas sains, teknik dan linkungan, Deakin University, menyatakan perlunya untuk mendorong wanita untuk mengambil karir sebagai peneliti di bidang STEM. Kolaborasi riset projek harus di arahkan dengan menggunakan hubungan dengan industry dan juga menjawab tantagan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, ketahanan cyber, tantangan berkembangnya urbanisasi dan […]

Read more

OPEN RECRUITMENT PENGURUS I-4 2018-2020

October 8, 2018

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional atau dalam bahasa Inggris International Indonesian Scholars Association disingkat dengan I-4 adalah sebuah wadah ilmuwan Indonesia di dalam dan luar negeri berasal dari konsepsi pengumpulan ilmuwan Indonesia dari seluruh dunia yang diinisiasi oleh PPI Jerman pada medio 2007. Pendiriannya dideklarasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) se-Dunia pada tanggal 5 Juli 2009 dalam kegiatan Simposium Internasional PPI Dunia pada tanggal 3 – 5 Juli 2009 di Den Haag, Belanda dan diresmikan secara formal di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 2009. Pada awal tahun 2018 ini, terpilih Dr. Deden Rukmana sebagai Ketua Umum I-4 untuk periode kepengurusan 2018-2020. Oleh karena itu, I-4 membuka kesempatan bagi rekan-rekan ilmuwan untuk ikut berpartisipasi dalam kepengurusan I4 periode 2018 – 2020. Berikut penjelasan singkat mengenai Job Desk pada divisi-divisi I-4: 1. Divisi Logistik dan Perlengkapan – Pengadaan keperluan sekretariat I-4: kartu nama, kenang-kenangan, kartu ucapan – Melakukan pemesanan merchandising – Mendukung program Science Travel: pemesanan tiket, hotel – Mendukung pengadaan print material I-4 (pemesanan percetakan, dsb) 2. Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia – Merumuskan persyaratan dan mekanisme penerimaan anggota – Menyeleksi calon anggota I-4 – Membuat dan mengelola database ilmuwan Indonesia yang tersebar di seluruh dunia – Merancang dan mengelola Reward Program – Mengelola mailing list I-4 3. Divisi Acara, Promosi dan Komunikasi – Mengelola materi program I-4 Talks dan kuliah online – Membantu dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan I-4 di dalam dan di luar Indonesia – Melakukan kegiatan promosi – Membuat press release – Mendukung pembuatan print material I-4 (materi teks dan sosialisasi) – Melakukan komunikasi ke media terkait kegiatan I-4 4. Divisi Grafik dan Multimedia – Mengelola website I-4. – Mengelola program I-4 talk dan kuliah online secara teknis – Mendukung Kegiatan-kegiatan I-4 lainnya: desain poster, grafik dan media pendukung lainnya. – Mendukung Pembuatan Print Material I-4 (buku, brosur, flyer dsb). 5. Divisi Kerjasama dan Pendanaan – Menjadi humas dan juru bicara I-4 kepada masyarakat dan calon sponsor – Bergerak aktif berhubungan dengan sponsorship – Mengelola kerjasama I-4 dengan organisasi atau institusi lain Salam hangat Divisi Keanggotaan dan Sumber Daya Manusia sdm@i4indonesia.org   klik tautan berikut http://bit.ly/oprecI4

Read more